Hari ini –Jum’at 27 Januari 2006- aku merasakan kembali satu kegairahan, suatu obsesi dan keantusiasan akan hal yang menjadi penggugah hati. Dan hal inilah yang menyadarkanku akan apa yang memang layak sebagai pengisi kehidupanku, pendamping setia,yang selalu membuat seluruh jiwaku tergerak ke dalam tujuan yang pasti. Seni, tidak ada hal lain selain darinya yang mampu membuatku termuara ke dalam fantastisme diri. Aku gembira dalam hati, telah kembali menikmati apa yang aku ingini, mengeksplor dan berjelajah memetik warna warni yang terpoles pada setiap seniman. Karena hari inilah aku kembali berkisah diri dari lubuk hati..
Pukul 14.00 aku datang ke Galeri Soemardja, ITB, untuk menghadiri suatu seminar diskusi mengenai karya2 seorang seniman bernama Heri WARdono. Dengan pembicaranya yaitu Bpk Bambang dan Prof. Jakob Soemardjo. Bpk Jakob ini yang menuliskan sebuah narasi objektif yang terkandung dari lukisan2 Heri, suatu karakter dari keseluruhan lukisan yang berciri khas. Simak narasi di bawah ini
NEGERI PERANG-NYA HERI DONO
Pamerannya kali ini diberi judul War, Perang.
Saya hanya akan mengamati beberapa lukisannya yang direproduksi dalam katalog. Perang yang mana? Perang antara orang Indonesia melawan orang Indonesia. Inilah “perang dalam negeri” menurut versi Heri Dono. Cara menggambarkan perang itu mirip pedalangan kulit Jawa. Dan ternyata pelukis ini memang pernah belajar dalang (1987-1988). Selain secara wayang kulit, ia juga menggambar secara karikatur, jadi menggambar peristiwa. Lukisan-lukisannya juga mirip relief-relief candi di Jawa. Dan semua ini digabungkan menjadi sebuah lukisan kontemporer Indonesia.
Beberapa lukisannya menampilkan pola tetap. Pola lukisan-lukisan itu sebagai berikut:
Pertama, ia selalu menggambarkan tokoh-tokohnya lengkap dari kaki sampai kepala.
Kedua, ia menyusun tokoh-tokohnya secara berhadap-hadapan, jadi mirip adegan dalam wayang kulit.
Ketiga, posisi saling berhadpan itu bukan adegan atatis, tetapi dinamis; ada ceritanya; mengandung suatu peristiwa atau adegan.
Keempat, tokoh-tokohnya selalu digambarkan nampak samping (en profil).
Kelima, cara mewarnai tokoh-tokohnya juga mirip wayang kulit, dalam arti warna wajah berbeda dengan warna badan; muluit diwarnai warna merah mirip tokoh-tokoh raksasa dalam wayang kulit.
Keenam, banyak menggunakan simbol-simbol tetap, yakni lidah menjulur, penis menggantung ke bawah, mata yang dobel, dan simbol-simbol referensian yang dikenal di Indonesia (tanda jasa, garuda pancasila, ji sam su, superman, batman, dll).
Ketujuh, bidang gambar selalu penuh sesak seperti gambar-gambar relief candi.
Kedelapan, pada tangan dan kaki diberi tanda bundar, seolah-olah tanda gapit untuk menggerakkan tangan dan kaki wayang kulit.
Kesembilan, warna-warna yang digunakannya cenderung monokrom, mirip warna-warna batik Jawa atau relief-relief tua yang berlumut kering, menandakan suatu yang purba.
Pada pendapat saya Heri Dono sedang menciptakan “wayang kontemporer”. Tokoh-tokohnya juga kontemporer. Kisahnya kontemporer. Setiap lukisannya adalah sebuah lakon, dan dengan demikian dapat diceritakan, ciri kesepuluh lukisan-lukisan Heri Dono adalah bersifat naratif. Karena dasarnya adalah wayang kontemporer, maka lukisan-lukisannya ini dapat dibaca secara wayang pual. Dalam wayang kulit, perang itu ada tiga macamnya. Yang pertama adalah perang gagal, yakni perang antara yang baik (kanan) dan yang jahat (kiri), tetapi tidak ada yang menang dan yang kalah. Perang gagal berarti tidk ada akhirnya.
Yang kedua adalah perang kembang, yakni perang antara yang baik dan yang jahat, antara Arjuna dan raksasa Cakil dan kompanyon-kompanyonnya, yang berakhir dengan dibunuhnya para raksasa. Hanya anehnya, para raksasa itu, di lain cerita muncul hidup kembali; dan dengan sendirinya dibunuh lagi; namun di lakon lain, bahkan di jaman cucu Arjuna, para raksasa ini tetap muncul untuk dibunuh. Inilah jenis perang abadi.
Yang ketiga adalah perang brubuh yang berarti perang habis-habisan. Yang baik menumpas habis yang jahat.
Namun dalam lakon-lakon kontemporernya ini, Heri Dono sama sekali tidak memunculkan “wayang yang baik”. Semua tokohnya mirip para raksasa. Tokoh yang kelihatannya lembut dan baik hanyalah bidadari atau semacam malaikat bersayap. Jadi WAR-nya Heri Dono kali ini adalah perang antara yang jahat melawan yang jahat, hanya saja yang satu, yakni sebelah kanan, “lebih baik sedikit”. Ingat, dalam wayang, tokoh sebelah kanan mewakili tokoh baik. Perangnya Heri Dono kali ini adalah perang antara tokoh-tokoh raksasa, donosaurus, atau sebaik-baiknya antara para Korawa. Tak ada Pandawanya. Itulah simbol Indonesia kita.
Berdasarkan “modal” ini, marilah kita baca lukisan-lukisannya,
Aquarium

of Art, menggambarkan jagad seni
Indonesia ibarat sebuah akuarium, yakni kotak tontonan, sebuah klangenan. Mengasyikan buat mengendurkan ketegangan pikiran. Dalam akuarium seni itu nampak sebelah kanan (raja, tuan rumah) orang yang di dahinya ad tanda ji sam su merek rokok mahal alaias raja rokok atawa raja tembako. Tetapi matanya hanya satu, artinya hanya melihat setengahnya saja. Raja tembako ini memakai topi Roma yang berarti jenderal perang. Mulutnya sibuk nerocos sembari anteknya yang ada di mulut ikut nerocos sebagai penyambung lidahnya. Ia sedang bertengkar sengit dengan tokoh sebelah kiri (musuh, orang luar) yang matanya tiga, artinya banyak melihat, banyak tahu. Ini diperkuat oleh bola lampu di kepalanya yang berarti pencerahan. Ada semacam dua tanduk atau antena yang subur karena ngocor. Lidahnya menjulur mengejek. Dan dari kepalanya menonjok sebuah pena yang tajam.
Di pinggir akuarium digambarkan serigala berbulu domba sembari ditunggangi Mister Barat sedang menyalak kepada tokoh kanan (tuan rumah, pemilik negara ini) yang juga geledek dengan lidahnya yang bercabang api (bahaya). Matanya malah empat, artinya mahatahu segala yang terjadi. Bahwa dia pemilik rumah yang ada akuariumnya terbukti dari simbol-simbol sepatu lars (kekuatan) dan tanda jasa negara RI dan semacam White Croos yang rupanya penghargaan luar negeri. Tetapi ia berekor dua, jadi agak bersifat kebinatangan. Tanda terakhir adalah dua penisnya yang ngocor ke bawah dan ditampung dua gelas sloki anggur. Ini simbol nafsunya yang besar dan terpuaskan. Tokoh pemilik negara (rumah) yang ada di kanan ini sedang menakut-nakuti si serigala berbulu domba yang setengah ketakutan. Dan di kepalanya ada senter yang teru-menerus menyoroti apa yang ada di depannya. Tokoh ini terlalu peka dan penuh curiga. Anda boleh menafsirkan sendiri arti peristiwa atau cerita ini. Sementara di sudut kanan atas ada seorang malakat di langit yang terheran-heran menyaksikan drama jagad akuarium seni Indonesia itu.
Jelas lukisan ini bermakna perang gagal, tak ada yang akan menang dan tak ada yang akan kalah. Perang semacam ini akan abadi di Indonesia.
Bidadari Menonton Pahlawan Kesiangan

menggambarkan seorang “pahlawan” yang sedang mengendarai suatu mahkluk yang penuh tanda simbol “maut” dan “beracun”, artinya mahkluk sangat berbahaya. Meskipun punya roda pengganti kaki, namun ia tidak mempunayi kelamin yang tidak ngocor. Nafsunya tertahan. Pahlawan kita itu memegang panji-panji kemenangan sembari pawai. Ia lengkap memeakai atribut seorang pahlawan yang bersih, yakni berkeris dan bermahkota halo (aura bundar). Pahlawan ini diletakkan di kanan, berarti “pemilik” atau “tuan rumah”, atau sedang “in”. kendaraannya terus menerus menghembuskan api kegeraman dari lobang hidungnya, dan menangkis setiap kata yang dilontarkan “musuh” kepada si pahlawan. Dan kata-kata lawan itu berbalik mengenai diri penyerangnya. Sementara di kiri ada dua sosok. Yang depan kelihatannya jujur karena pakai atribut Arjuna pada gelungan kepalanya. Matanya dua, artinya manusia normal-normal saja. Kelaminnya tidak ngocor, nafsu tertahan. Tokoh ini di atas kepalanya ada matahari kecil lambang keterus terangan. Sementara di belakang “Arjuna kecil” ini ada tokoh raksasa banci, matanya tiga, banyak tahu. Tetapi ia juga bertanda “bahaya”. Dari belakang ia menunjuk-nunjuk si pahlawan kesiangan, rupanya ada dasar iri hati juga.
Sementara itu di atas (Dunia atas) ada bidadari melayang-layang sambil senyum-senyum menonton adegan seru ini. Bidadari diikuti oleh kodok terbang dan kadal yang ikut numpang bidadari terbang. Inilah simbol rakyat yang juga ikut senyum-senyum menonton. Silahkan sendiri apa maksud cerita ini.
Lukisan ini termasuk jenis perang gagal juga, karena tak ada yang menang dan tak ada yang kalah, dan di setiap jaman cerita akan selalu muncul kembali. Ini jenis “perang abadi” Indonesia yang entah kapan akan berubah menjadi perang brubuh (habis-habisan).
Burung Garuda Di Atas Panggung Raksasa Yang Sedang Menyuapi Anak-anaknya jelas menggambarkan Garuda Indonesia yang sedang bertengger di punggung raksasa beroda (kendaraan). Keduanya berhadapan muka. Si raksasa penuh simbol-simbol kekuatan. Ia sedang menyuapi dirinya dan anak-anaknya yang bertengger di mulutnya. Matanya normal dua seperti si garuda. Ia merasa terganggu oleh kedatangan si garuda, si kepala raksasa selalu ada lampu senter yang siap mengetahui yang ada di depannya. Kelaminnya terus mengocor, artinya nafsu terpuaskan. Raksasa ini jenis mahkluk binen (mapan) di bumi Indonesia. Si garuda berhalo goyang tanda selalu ragu terhadap nilai kejujuran dan kebenaran. Ia bersayap putih, namun lidahnya hanya menjulur dan napaknya ia tak berbuat apa-apa. Mestinya burung garuda ini dapat menghantam raksasa lahap ini, tetapi ia hanya bertengger di atas saja. Burung garuda ada di kanan, jadi pihak yang baik.
Idealnya perang ini merupakan perang kembang, yakni si baik membunuh si jahat, meskipun si jahat ini akan hidup kembali di lain cerita. Tetapi perang kembang tidak terjadi, bahkan tak ada perang.
Take Away Island menggambarkan si pejabat-penguasa yang berperan sebagai raksasa wayang bermata tiga. Berkuping babi. Lidahnya menjulur penuh gairah, namun penisnya belum ngocor. Ada tanda bintang merah di saku jasnya. Dan simbol garuda pancasila tersemat di dadanya. Perutnya buncil tanda makmur, dan kerjanya Cuma minum anggur dan mengisap cangklong. Bersantai ria. Ia ada di kiri, jadi pihak jahat. Matanya memelototi kalender malam minggu yang bergambar bintang film cantik Amerika.
Jelas ini masuk perang brubuh, perang ancur-ancuran. Tapi yang menang pihak kiri, alias raksasa jahat.
Donosaurus Going To Earth menggambarkan gabungan perang gagal, perang kembang dan perang brubuh sekaligus. Inilah perang hancur-hancuran sebuah negeri. Perang dinosaurus (tentu saja bukan donosaurus) saling berhadap-hadapan dengan segala keganasannya. Ada yang di bawah gunung dan ada yang turun gunung, seolah-olah negeri ini tak henti-hentinya kedatangan para dinosaurus. Mereka inilah para raksasa-raksasa bintang-manusia. Mereka saling berperang, saling mengancam. Tapi ada juga yang merasa mantap dan tak bergeming dengan kedua tangan mendekap di dada.
Sementara itu di atas gunung, pada puncaknya, terpampang sebuah televisi dengan cara infotainment. Pucuk gunungan mestinya berarti pucuk mistisisme, tetapi di sini terbalik dalam simbol beringin putih yang terbalik (sungsang). Inilah negeri serba terbalik, mestinya makrifat malah terbalik menjadi maksiat.
Silahkan menafsirkan sendiri, ini negara mana? Tentunya bukan Indonesia yang berpancasila.
Negeri semacam itu hanya tinggal menunggu kehancurannya saja, karena para dinosaurus saling memakan, sampai negeri ini dinamai negeri dinosaurus, sejenis binatang purba yang mampu memusnahkan umat manusia.
Troyan Cow ejekan untuk Troyan’s Horse dalam legenda Yunani.

Dua tokoh besar sedang jalan-jalan mengelilingi panggung dunia. Mereka santai-santai saja. Yang di depan adalah tokoh komik terkenal Batman yang menjadi Badman. Ia tidak berkelamin karena ia mesin pahlawan. Si Badman mengawal si Superman pahlawan Amerika dalam komik juga. Si Superman penisnya ngocor dan puas. Ia bertanda bahaya maut dan siap dengan jerigen bensinuntuk membakar setiap sudut panggung sandiwara dunia ini. Keduanya mendatangi si manusia setengah yang seorang kopral. Orangnya kerdil. Tubuhnya berlubang, artinya setiap masuk mulutnya keluar seperti adanya tanpa dicernakan. Ia mencoba menghalang-halangi kedua Suerman dan Badman yang datang ke “negerinya”. Inilah sebabnya Superman dan Badman digambar dari arah kiri, sedangkan si kerdil setengah ada di kanan (tuan rumah). Rupanya si kerdil berusaha menegur kekurangajaran kedua hero tersebut. Namun yang ditegur kalem-kalem saja ketika sebuah pesawat berusaha membokong kedatangan kedua musuh tersebut (angkatan perang) maka dengan kalem dan canggih si Badman menembak ke depan dan anehnya peluru langsung membalik dan mengenai si pesawat. Hebatnya tembakan langsung kena tanpa sedetik pun dilirik oleh si Badman. Sebenarnya si Badman tak usah repot-repot menembak dengan cara canggih bin canggih tersebut, lantaran sudah ada tengah yang membokongnya menembak dari balik layar. Inilah si Kerbau Troya tadi.
Perang ini masuk kategori perang brubuh, kalau si kerdil itu tak berusaha cerewet menghalangi kedatangan Pahlawan-Pahlawan Dunia ini.
Begitulah sudah saya usahakan membaca bahasa gambar Heri Dono dalam pamerannya kali ini. Saya sendiri tidak punya pengalaman dengan lukisan –lukisan Heri Dono sebelumnya. Apakah pola-pola semacam ini juga dipakainya. Menurut saya inilah cara menggambar versi Indonesia (Jawa) yang hanya dapat dipahami secara bahasa wayang kulit, relief candi, dan ilustrasi buku-buku babad.
Ceritta-cerita dalam gambar itu adalah simbol, dan karenanya setiap orang bebass menafsirkannya. Hanya bahasa rupanya memang perlu dijelaskan dari sudut budaya Jawa (Indonesia)
***
Nah, sedikit keluar dari cakupan bahasan tentang karya ini, aku mengakui sungguh mengacungkan jempol kekaguman kepada Bpk Jakob yang telah berusaha mencoba menafsirkan lukisan-lukisan Heri Dono, dengan tafsiran yang betul-betul detil dari gambar demi gambar yang tervisual hingga mampu dipahami oleh para pembaca.
Menyimak diskusi tadi, seperti yang telah diutarakan juga oleh Bpk Bambang, diketahui karakteristik yang terungkap mengenai lukisan-lukisan Heri Dono, yaitu kekerasan yang ceria, penuh dengan syahwat; karakter pelukisan yang kekanak-kanakan namun sekaligus juga menunjukkan kekerasan yang bahkan ekstrim. Karya ini benar-benar menyentuh insting kita akan narasi yang ingin diungkap oleh Heri Dono.
Terdapat distorsi gambar, yaitu berdasarkan cara gambar pewayangan, di mana tubuh yang sepenuhnya menghadap ke pinggir namun wajah yang menghadap frontal. Berani melukis dengan cara seperti itu namun menimbulkan fantastisme sendiri. Selain itu terdapat ornamentasi yang begitu matang dan penuh kepribadian. Lukisan-lukisan ini tergambar secara oriental tetapi juga daripadanya seolah menampilkan diri sebagai seorang modernis, tokoh-tokoh dalam lukisan-lukisan ini menggunakan macam barang teknologi masa kini. Lukisan-lukisan Heri Dono ini bersifat naratif; menceritakan sesuatu, yang telihat jelas secara visual apalagi setelah mengetahui tema utamanya: perang. Jadi dalam karyanya terdapat tema prima: obsesi terhadap kekerasan, ketindasan, adalah refleksi dari realitas sejak pemerintahan periode II sampai masa kini (seperti periode presiden Soeharto) -bisa dilihat dari tanggal pembuatan-.
Dari karyanya tersirat suatu kebermainan -dalam segala arti-, seperti teknologi yang dimain-mainkan, sehingga berefek lucu, terdapat kejenakaan atau guyonan-guyonan didalamnya. Ini merupakan suatu kebermainan yang cerdas.
Ekografisnya adalah menggunakan ekologi yang penuh imaji, dimana segala yang asing dihubungkan kembali dengan ekologi kultural Jawa, autentik.
(*) Ada salah satu karya yang berbeda, naratifnya nyaris berbahasa harfiah sehingga kehilangan kejenakaan pada gambar yang terlihat.
Sekali lagi, lukisan-lukisan Heri Dono ini bertemakan sosial yang cukup kuat, ada konklusi sifat lukisan Heri Dono: latar belakang wayang , dengan layar scream. Sebagai layar seperti itu memungkinkan bisa menjinakkan kenyataan real, mampu memparalogiskan sesuatu yang detil menjadi suatu komedi; ada hubungannya dengan tradisi Jawa. Hal ini sering juga terdapat pada resistensi guyonan. Sehingga seolah menimbulkan pertanyaan apakah karya seni pun harus mengubah kenyataan.
Karya ini bersifat melebih-lebihkan jika hanya dipandang dari sekilas mata, seolah penuh dengan kebohongan. Padahal dari kebohongan yang ditanggapi malah menyadarkan kita kepada suatu kebenaran, suatu realita. Seperti yang dikatakan oleh Piccaso: Art is a lie.
Pada karya tiga dimensinya (*), terdapat parlodi sebuah jeep yang ditumpangi orang-orang yang siap berperang; memiliki kesan main-main, efeknya kepada bahan mainan, terkandung unsur kekerasan yang jadi bahan permainan yang lucu yang justru semakin terasa menggenaskan.
Suatu karya seni yang mampu mengatasi kerangkapan tradisi, Jawa dan asing.
Suatu karya seni yang berfungsi merayakan seni itu sendiri.
Heri Dono menggunakan nama sendiri sebagai tittle salah satu lukisannya, menggambarkan seperti ada suatu kegelisahan pada diri sendiri, seperti ada abivalensi, seperti ada suatu beban atau ketakberdayaan dan perlawanan kolektif tanpa sadar, seperti ada kebutuhan inovatif serentak dengan kenyataan ketakberdayaan itu sendiri.
Karyanya menjangkarkan diri pada kenyataan sosial, seperti: ereksi kultural yang telah terimpotensi. Dalam karyanya seperti ada upaya mentradensi, mengisi ketidakmungkinan, dari ketakberdayaan itu ada upaya menertawakan, bahkan upaya menikmati ketakberdayaan itu.
Dari semua penjelasan ini telah memberiku banyak wawasan mengenai makna sebuah karya dan menikmati estetika yang tersimpan di dalamnya. Aku benar-benar tergugah oleh pameran ini, seperti ada yang menyemangati kembali untuk terus menggali sesuatu yang menjadi ketertarikanku.