Tuesday, February 21, 2006

Saat Malam Menangis

Saat Malam Menangis

Dalam kegelapan malam

Cakrawala tak bercahaya

Ada rasa yang tak mengena senyum hatiku

Kaubuka pintumu

Sedetik tatapan beradu

Dalam mataku

Kulihat jernih matamu yang meluluh

Dalam batinku

Kurasa sendu hatimu

Dalam suara hatiku

Kudengar pilumu

Dalam jarakku dan kamu

Kutangkap suara isakmu

Dan teriakanmu menggema dalam telingaku

Adakah sedihmu layak langit yang menangis

Menjatuhkan hujan keras pada bumi

Adakah hatimu memohon pada diri

Menyandarkan deritamu pada pertanyaan hati

Langit menangis

Malam hanya membisu

Engkau menangis

Aku pun hanya membatu

Aku pergi menunduk

Dan engkau menutup pintu

(Ada apa teman?tanya hatiku)

21 February 2006

Friday, February 17, 2006

Kisah Yang Menjelang Akhir


Kisah Yang Dilupakan


Kenapa kau hanya mampu datang dan pergi
Hilang tertutup waktu
Muncul tanpa perlu menepis minggu-minggu yang membisu'
Bersuara tanpa lisan
dengan pertanyaan serupa mengetuk heningku
Seolah jam berjalan seperti biasa
Tidak membuat perasaan kecam atau keresahan yang tabu
Padahal memang itulah yang pernah terasa
Dan kau tak ingin tahu
Kebisingan diri yang begitu sepi pada saat lalu

Beberapa jam lampau suaramu yang tak bersuara menyapaku
Mataku tak mampu membaca
Tapi kini hatiku sudah tak terketuk oleh sapamu

Sudahlah , jika tak mengerti
Aku mulai melupakanmu

Biarkan aku disini berkata-kata
Tanpa perlu kau tahu
Karena kau tak ingin tahu
Dan aku melupakanmu

Seandainya dulu kau bukan jamahan ombak
Tetapi pasir yang berserak di luasan pantai
Hingga aku mampu menapakimu setiap langkah
Saat kering maupun basah

Aku hanya perlu kau mengerti


17 Februari 06