Salam jumpa my blog dan bloggers, ada cerita yang sudah tidak tahan bersembunyi dalam pikiran saya, maka akan saya luapkan pada carik carik yang siap tertoreh disini… :)
Baru saja kemarin saya mengikuti Seminar ESQ di Cilandak Jakarta, puji syukur karena saya mendapat tawaran cuma-cuma, mewakilkan sang ayah yang diundang dan tidak bisa menghadiri seminar tersebut. Ehm… apa ya kesannya setelah mengikuti training ini. Mendapat pencerahan? Atau mengembalikan kesadaran diri? Atau menggugah hati tentang kebesaran Allah SWT? Ah, itu memang tujuan sebenarnya pelaksanaan ESQ. Tapi yang saya rasakan setelah 3 hari berturut-turut mengikuti, makin galak saja kegelisahan ini mengganggu pikiran saya. Kenapa bukan kedamaian hati yang terasa? Tapi malah sebaliknya? Saya gelisah, gelisah terhadap kehidupan. Kehidupan sendiri. Gelisah terhadap realita kehidupan bangsa Indonesia. Jika seminar ini ingin mengantarkan kita pada kesadaran akan tujuan hidup, yaitu untuk Allah SWT, lantas mengapa itu menjadi membuat saya gelisah. Tujuan yang mengangkat ajaran religi dengan kentara. Begitu indahnya Asmaul Husna yang seharusnya menjadi nilai-nilai prinsip kita menjalani hidup. Keberadaan diri di dunia teruntuk Allah SWT>>>menciptakan hubungan transenden dan begitu subjektif dalam proses menjalaninya. Subjektif, ya kan? Maka dari itu selalu ada saja perasaan tidak nyaman ketika kita-kita ini menemukan ketidaksepahaman dalam proses tersebut… Ada suara hati disini, berteriak dan tersedak dalam dada saja: “Saya ingin sekali menjadi salah satu penghuni taman surga! Saya ingin meminjam sifatNya menyayangi dan mengasihi siapapun tanpa melihat dari mana ‘asal’nya.” …
Jika kita memiliki tujuan hidup yang sama, maka saya ingin menjadi satu kesatuan dengan semua yang hidup di dunia ini. Bukankah kedamaian hidup adalah dambaan setiap mahkluk hidup…Kenapa masih seringkali terjadi perselisihan intern agama di Negara kita tercinta. Ok, cukup. Cukup sekali saja saya menyebutkan pertanyaan barusan, daripada mengundang kernyitan dahi para individu yang mungkin sudah memiliki interpretasi masing-masing tentang keyakinannya. Suara hati ini telah membuat saya melakukan sesuatu di luar kebiasaan ‘paham’ saya pada momen-momen seminar berlangsung, sebab, saya ingin melihat dan menganggap manusia-manusia di hadapan saya sebagai sesama; mahkluk milikNya dan memiliki tujuan sama. Karenanya saya berharap Allah meridhoi apa yang telah saya lakukan akibat suara hati saya mengucap kebersamaan dan perdamaian. Ataukah saya masih bebal atau belum tahu benar terhadap ‘paham’ yang ada. Ah, kebenaran yang mutlak hanya satu; Tuhan. Biarlah Dia yang menghakimi.
Seperti yang disampaikan kemarin dalam seminar, untuk mencapai fitrah diri, perlu kita hilangkan dahulu belenggu-belenggu yang menghalangi menuju fitrah itu, lakukanlah zero mind process… Yang saya inginkan adalah tercapainya atmosfer e plurious unum* inter dan antar bangsa, serta contemplatio ad amorem** pada tiap individu. Semoga.
**permenungan yang sampai menyentuh perasaan syukur dan cinta.
*Takbir berkumandang
Ada rasa bahagia dan rahmat yang besar
Sambil menunggu Matahari menghampiri
Dan menjemput para kurban
Di sisi bilik hati yang lain
Ada rasa gundah dan sedih
Tidak rela bertandang dengan waktu
Yang seolah akan tiba saatnya
“Cinta itu janganlah melebihi padaKu”
sabdaNya pada Ibrahim as
Namun rendahnya diri ini
Belum mampu sejajar dengan ikhlas sang nabi
Rasarasa ini harus segera ku bunuh
Demi apakah
Aku bertanya-tanya
Padahal ilmuku berkata
Aku manusia yang tak mampu sendiri
Dengan’nya’ aku terarah mencapai tujuan kepadaMu
Begitulah suara hati merasa melihat diriMu
Rangkap oleh ketakutan itu suara emosi semata
Adakah keyakinan ini bisa Kau benarkan
Karena tujuanku hanya untukMu
Dan kukembalikan segalanya padaMu
Yang milikMu
*Momen Idul Adha
dan aku sedang terjebak di persimpangan jalan.