Saturday, October 03, 2009

43

Jika kita baca kata-kata Tuhan yang murka dalam Kitab Suci, si manusia itu seakan-akan bukan ciptaan-Nya lagi. Dalam artian tertentu, ada sesuatu yang berhasil – manusia bisa menakjubkan dalam kemerdekaannya, dan sebab itu Iqbal mengingatkan kita bahwa makhluk ini adalah “wakil Tuhan di bumi”. Tapi juga ada sesuatu yang gagal.


Satu perkara yang tak henti-hentinya jadi persoalan teologis: tak bisakah kita menyimpulkan, bahwa kegagalan itu sesuatu yang niscaya? Tuhan memperlihatkan kuasa-Nya dalam diri manusia-di-dunia tapi makhluk itu juga justru yang praktis membatasi kehendak-Nya dan membuat kehendak itu tak bisa “jadi” mutlak.


Artinya Ia tak pernah selesai dengan manusia. Mungkin Ia tak pernah puas. Ia mencintainya tapi harus menyaksikan cacatnya.


"Tuhan & Hal-hal Yang Tak Selesai", Goenawan Mohamad


Thursday, October 01, 2009

Guncang Bumi

Sekali lagi bumi berteriak, tanpa langit berdehem keras , tanpa angin meniup kencang, tanpa hujan menangis lebat, tanpa matahari bercahaya silau kemilau, biasa-biasa saja, tak ada yang mengetuk sebelumnya.

Lalu tanah bergoncang, porakporanda, tersembur hambur. Tidak biasa – seolah biasa.

Tidak ada daya. Tidak ada kuasa. Tidak ada bahak. Hanya harap dalam takut. Hanya doa bersimpuh kuat-kuat. Hanya mata-mata terpaku dan merana. Atau hanya sengal bisu dan parau.

Sang Raja sedang mencoretkan sedikit tinta penanya di atas bumi? atau sekejap meNunjuk bumi yang ingkar? atau sekali mengedipkan Mata yang murka? Atau…? Sangsi. Sangsi. Sangsi. Saksi. Biar bumi bersaksi pahit.

Dan menangislah. Atau tersenyum. Persiapan bagi yang mati - hidup. Persiapan bagi yang hidup - mati.

Dan dengarlah, Sangkakala sedang dibunyikan.



2:03 AM 1 Oktober 2009

.Ketika. Gempa 7.9 SR Guncang Sumatera