Jika kita baca kata-kata Tuhan yang murka dalam Kitab Suci, si manusia itu seakan-akan bukan ciptaan-Nya lagi. Dalam artian tertentu, ada sesuatu yang berhasil – manusia bisa menakjubkan dalam kemerdekaannya, dan sebab itu Iqbal mengingatkan kita bahwa makhluk ini adalah “wakil Tuhan di bumi”. Tapi juga ada sesuatu yang gagal.
Satu perkara yang tak henti-hentinya jadi persoalan teologis: tak bisakah kita menyimpulkan, bahwa kegagalan itu sesuatu yang niscaya? Tuhan memperlihatkan kuasa-Nya dalam diri manusia-di-dunia tapi makhluk itu juga justru yang praktis membatasi kehendak-Nya dan membuat kehendak itu tak bisa “jadi” mutlak.
Artinya Ia tak pernah selesai dengan manusia. Mungkin Ia tak pernah puas. Ia mencintainya tapi harus menyaksikan cacatnya.
"Tuhan & Hal-hal Yang Tak Selesai", Goenawan Mohamad