Sunday, April 03, 2011

Antara Kekuasaan dan Agama

Celaka negara ini, kekuasaan ('negara') jahanam sudah tidak malu menelanjangi dirinya sendiri, mengoyak baju mereka, merobohkan pondasi mereka biasa berdiri, menghancurkan asasi pertahanan diri. Negara kita berada di ujung tombak kehancuran. Tidak ada lagi junjung tinggi 5 sila atau itaat konstitusi, tidak ada lagi Bhineka Tunggal Ika. Komunisme sedang dijalankan, imperialisme radikal digalakkan. Rakyat minoritas terbantai tercaci pedih. Rakyat jelata yang primitif dijadikan sebagai hewan keji pemangsa para komunitas pencinta damai dan bersih. Mereka dijadikan mainan dan batu loncatan menuju perubahan segala jubah dan tudung negara. Tidak boleh ada multikulturisme. Bagaimana negara bersetubuh dengan agama agar kekuasaan tak tersentuh, dan menggunakan bahasa sebagai senjata hebat dan perkasa menuju kekuasaan tertinggi. Apa yang akan terjadi pada negara ini??

Menangis dan sakit hati saya mendengar kisah dari seseorang yang bertemu langsung dengan korban Cikeusik, Pandeglang (pembantaian warga Ahmadiyah). Dia mendeskripsikan apa yang mereka lihat dan mereka rasakan secara fisik maupun psikis dari perlakuan prikehewanan massa saat menyerang mereka, dan itu berdampak cukup fatal hingga detik ini. Mereka sangat trauma dengan kejadian naas kemarin. Apalagi yang saya dapatkan hari ini? Baru saja saya melihat para penganut agama Kristen Protestan yang berbondong di jalanan, lokasi kota Bogor. Apa yang terjadi? Bupati Bogor baru saja mencabut ijin bangun Gereja di sana, sehingga mereka terpaksa beribadah di jalan. Mereka dituntun oleh aparat kepolisian menuju jalan untuk beribadah, sambil membawa tangkai bunga putih di genggaman sebagai tanda mereka penghuni gereja tersebut. Apalagi yang saya lihat hari ini? Saya membaca twitter teman yang memposting ‘’sriusan Menag nyuruh bongkar patung Buddha di Tanjung Balai, Sumut?:(((‘’ ... Istighfar ... See? Apa yang teman2 rasakan? Mungkin kalian ada yang hanya diam membaca tulisan singkat ini. Tanpa visualisasi apalagi merasakan tidak akan cukup mengusik hati.

Lalu, apa yang kita harus lakukan...? apa yang perlu kita renungkan...? Mereka semua adalah pencinta Tuhan, teman, cinta perdamaian dan persatuan. Mereka butuh hidup tentram. Apakah itu dilarang? Para cendekiawan dan wakil rakyat telah kalah oleh permainan kekuasaan. Atau menjadi a****g peliharaan kekuasaan? dengan rantai mengekang kuat di leher-leher mereka? #emosi. Hilanglah segala integrasi pengabdian ‘negara’ kepada rakyat ini, demi kekuasaan belaka. Jika sudah terjadi seperti ini, sekarang siapa yang telah menodai agama? Siapa yang bisa menghakimi semua ini? Faith is super privacy thing, that we must not judge bout other’s. Just let God decide!!

Saya sih lebih setuju dengan penggalan bio akun twitter om Wimar Witoelar: ‘saya ga mau mengubah pendapat orang yang sudah punya pendirian, tapi mau berbagi perspektif pada siapa saja. Dalam suasana sejuk’. Always do reflection of ourself.

Wednesday, November 17, 2010

ESQ, Suara Hati, Tujuan Hidup, dan Tuhan

Salam jumpa my blog dan bloggers, ada cerita yang sudah tidak tahan bersembunyi dalam pikiran saya, maka akan saya luapkan pada carik carik yang siap tertoreh disini… :)


Baru saja kemarin saya mengikuti Seminar ESQ di Cilandak Jakarta, puji syukur karena saya mendapat tawaran cuma-cuma, mewakilkan sang ayah yang diundang dan tidak bisa menghadiri seminar tersebut. Ehm… apa ya kesannya setelah mengikuti training ini. Mendapat pencerahan? Atau mengembalikan kesadaran diri? Atau menggugah hati tentang kebesaran Allah SWT? Ah, itu memang tujuan sebenarnya pelaksanaan ESQ. Tapi yang saya rasakan setelah 3 hari berturut-turut mengikuti, makin galak saja kegelisahan ini mengganggu pikiran saya. Kenapa bukan kedamaian hati yang terasa? Tapi malah sebaliknya? Saya gelisah, gelisah terhadap kehidupan. Kehidupan sendiri. Gelisah terhadap realita kehidupan bangsa Indonesia. Jika seminar ini ingin mengantarkan kita pada kesadaran akan tujuan hidup, yaitu untuk Allah SWT, lantas mengapa itu menjadi membuat saya gelisah. Tujuan yang mengangkat ajaran religi dengan kentara. Begitu indahnya Asmaul Husna yang seharusnya menjadi nilai-nilai prinsip kita menjalani hidup. Keberadaan diri di dunia teruntuk Allah SWT>>>menciptakan hubungan transenden dan begitu subjektif dalam proses menjalaninya. Subjektif, ya kan? Maka dari itu selalu ada saja perasaan tidak nyaman ketika kita-kita ini menemukan ketidaksepahaman dalam proses tersebut… Ada suara hati disini, berteriak dan tersedak dalam dada saja: “Saya ingin sekali menjadi salah satu penghuni taman surga! Saya ingin meminjam sifatNya menyayangi dan mengasihi siapapun tanpa melihat dari mana ‘asal’nya.” …


Jika kita memiliki tujuan hidup yang sama, maka saya ingin menjadi satu kesatuan dengan semua yang hidup di dunia ini. Bukankah kedamaian hidup adalah dambaan setiap mahkluk hidup…Kenapa masih seringkali terjadi perselisihan intern agama di Negara kita tercinta. Ok, cukup. Cukup sekali saja saya menyebutkan pertanyaan barusan, daripada mengundang kernyitan dahi para individu yang mungkin sudah memiliki interpretasi masing-masing tentang keyakinannya. Suara hati ini telah membuat saya melakukan sesuatu di luar kebiasaan ‘paham’ saya pada momen-momen seminar berlangsung, sebab, saya ingin melihat dan menganggap manusia-manusia di hadapan saya sebagai sesama; mahkluk milikNya dan memiliki tujuan sama. Karenanya saya berharap Allah meridhoi apa yang telah saya lakukan akibat suara hati saya mengucap kebersamaan dan perdamaian. Ataukah saya masih bebal atau belum tahu benar terhadap ‘paham’ yang ada. Ah, kebenaran yang mutlak hanya satu; Tuhan. Biarlah Dia yang menghakimi.


Seperti yang disampaikan kemarin dalam seminar, untuk mencapai fitrah diri, perlu kita hilangkan dahulu belenggu-belenggu yang menghalangi menuju fitrah itu, lakukanlah zero mind process… Yang saya inginkan adalah tercapainya atmosfer e plurious unum* inter dan antar bangsa, serta contemplatio ad amorem** pada tiap individu. Semoga.


*menyantuni persatuan di tengah keragaman.

**permenungan yang sampai menyentuh perasaan syukur dan cinta.


*Takbir berkumandang

Ada rasa bahagia dan rahmat yang besar

Sambil menunggu Matahari menghampiri

Dan menjemput para kurban

Di sisi bilik hati yang lain

Ada rasa gundah dan sedih

Tidak rela bertandang dengan waktu

Yang seolah akan tiba saatnya

“Cinta itu janganlah melebihi padaKu”

sabdaNya pada Ibrahim as

Namun rendahnya diri ini

Belum mampu sejajar dengan ikhlas sang nabi

Rasarasa ini harus segera ku bunuh

Demi apakah

Aku bertanya-tanya

Padahal ilmuku berkata

Aku manusia yang tak mampu sendiri

Dengan’nya’ aku terarah mencapai tujuan kepadaMu

Begitulah suara hati merasa melihat diriMu

Rangkap oleh ketakutan itu suara emosi semata

Adakah keyakinan ini bisa Kau benarkan

Karena tujuanku hanya untukMu

Dan kukembalikan segalanya padaMu

Yang milikMu

*Momen Idul Adha

dan aku sedang terjebak di persimpangan jalan.

19 Juli 2010

19 July 2010

Bismillahirahmanirahim…

Hi my lovely blog…! so sorry I really had left u pretty long time… I come back for telling the essences of my life journey. Maybe I wudnt tell d details, but it made me so new, changing or deciding my pathway to my visions. I’ve never been so grateful for being myself… yeah who ever wanna b sorry to be lived? unless we think and thankful. Wat I got during I left u, blog, are kinda big lessons, from several or many people whom I live or interaction with daily. One thing u sud do, if u wanna be something, then imagine it every moment, think it as if u wud be, n u certain of wat u think u wud be. That’s wat I do every I remember. It might b hard to start where sud we walk first, or wat we sud do first, but if u think positive n still doing due to ur dreams, then God will lead u to them, even unrealized. I have some inspiring people of my life. They motivate me 2 keep moving on, for being a complete human -sounds too much huh?

The thing tat always next to ur life.. is..LOVE. I ever pray to be loved by people around me, or by whoever comes to my life. I ever pray these people wud take me to good future. Believe or not, it comes true. I see someone lived my life in d past, n he comes back into. He makes me think a lot, n do a lot also. FYI, I used to think a lot then doing. But since I’m with him, step by step I can balance them. The most important from both, is courage. Once u courage doing wat u think, ur way to d vision will flow smoothly. U can assure tat ur dream is waiting front of u. Make the world proud.

The other lesson I kept; we sometimes ignore things we aren’t interested to, while the fact they are necessary to be learned, not only for our self but also for human being. Might be it’s becoz we don’t know how to treat the things to be something they sud be, or we feel we don’t get easy to understand the things, so we leave them. Then wat sud we do? Having socialization with some communities, giving n taking information to be share with. Trust me guys, it’s an effective way to expand ur open-minded or ideas. Beside we got new knowledge n perspective, we’ll more appreciate to other’s activities or things they make, or we got new inspiration as plus advantage, or we can make it collaborate with other’s idea. Talking bout perspective, Bob Dylan said ‘do not criticize wat u don’t understand’* or Wimar Witoelar said ‘perspektif lebih berguna daripada pandangan sempit’*. So, wat r we waiting for? Let’s have a USEFUL chat with others. But one thing u must underline, YOU ARE with whom u get along with. Be careful choosing people who u let come into ur life, it dominantly determines wat ur future will be.

Thx for reading this part – hope u get new thing from it.

Thx to people I get along with… love u.

Thx to God always lead me… admire u.

N c u on next blog.

Wednesday, August 11, 2010

My Journey Tracing the Green And Blue of Earth

Pengalaman menjelajah alam kembali aku geluti, ke pantai cipatujah bersama tim Pak Bunawijaya. Lagi-lagi, banyak pelajaran yang aku dapat dari perjalanan ini, meskipun hanya menghabiskan waktu semalam. Memang tidak akan sia-sia jika kita berinteraksi dekat dengan orang-orang berjiwa ‘bebas’ dan berpengalaman hidup berdasarkan nurani, terlebih lagi dengan yang menyayangi alam. ‘Bebas’ disini, bebas mengatur hidupnya sendiri dengan syarat tidak menyalahi hakikat sebagai ciptaan Tuhan. Segala sesuatu yang dikerjakan dan diperoleh adalah menggunakan akal sehat dan hati nurani. Orang-orang yang aku temui kali ini, adalah orang-orangtipe survivor. Mereka berjuang dan berhasil meraih kesuksesan. Tidak hanya sukses materi, tetapi juga sukses menemukan hidupnya, sesuai dengan kenyamanan hati. Dari pembicaraan santai saya dengan mereka, ada beberapa kunci yang saya bisa pegang untuk bisa dijadikan alat perjalanan hidup saya ke depan. Pertanyaan klise: saya ingin tahu KENAPA pak buna bisa sukses seperti sekarang? Dengar-dengar tentang perjalanan hidupnya, dalam hati saya sebelumnya berpikir, apa mungkin factor lucky nya besar. Tapi setelah menyelam lebih dalam, ternyata tidak juga demikian. Beliau benar-benar berjuang dari nol, dan mungkin lagi saya berpikir, beliau memang bukan orang biasa, cerdas memanfaatkan otaknya untuk menghadapi keras hidupnya saat itu. Tapi untuk menceritakan kembali tentang detil riwayat hidupnya akan panjang teman-teman...

Jadi, kuncinya adalah : kejujuran, rajin, disiplin, dan tanggung jawab. Sungguh jawaban klasik, sungguh kata-kata yang familiar kita dengar. Tapi, saya mendengarnya sebagai kata-kata baru, yang harus saya pelajari atau harus saya coba seolah pertama kali. Inti lain dari cerita beliau, kenali kelebihan kita, terlebih jika mengenali bakat yang ada. Jika kita bisa menggunakannya besertakan keempat sifat tadi, maka insyaallah kebaikan akan menjemput, peluang menuju nasib yang lebih baik akan mendekat. Apapun bisa kita peroleh asal ada tekad dan kemauan yang kuat. Namun tetaplah semua yang akan kita lakukan tidak terlepas dari pertimbangan, apa yang akan terjadi beberapa waktu ke depan bila kita melakukan ini atau itu. Kembali kepada keputusan diri sendiri, karena jalan hidup adalah pilihan. Nah, pak Bunawijaya menambahkan, ada lagi yang perlu diingat, no hurt anyone’s feeling’ dengan cara bersikap (berbicara) santun, kesantunan itu sangat diperlukan. Untuk menjadi seorang pemimpin, sangat diperlukan cara berbicara yang santun tapi tetap mengundang rasa segan bagi orang-orang sekitar. Jika sudah sukses, kita harus tetap low profile… ini yang sering terlupakan oleh orang-orang yang sudah berhasil berada di jajaran atas. Jangan takut, kejujuran pasti membawa penghargaan pada diri kita, melalui apapun. Disamping berbicara tentang kesuksesan, pak bunawijaya salah seorang yang sangat mencintai alam.

Jika saya formulasikan lagi kunci untuk mencapai kesuksesan, diperlukan 3 sifat dasar : jujur, rajin, tanggungjawab -> credibility. Sounds easy to do, but it might b doesn’t as easy as we thought. Kemudian modal pertama, tekad dan kemauan kuat -> willingness. Akan lebih baik jika kita sudah mengetahui bagian-bagian kelebihan dan kelemahan dari diri kita -> identify yourself. Setiap melangkah jangan lupa akan pertimbangan baik buruknya untuk ke depan -> think sustainability. Ketika berelasi atau berinteraksi dengan orang (atau berada di posisi memanage orang), memegang prinsip -> no hurt anyone’s feeling, dengan kesantunan, namun tetap bercitra wibawa. Ketika sudah berhasil menaiki tangga keberhasilan, seberapa tinggi tingkatnya, tetap low profile. Dan yang terkahir, merasakan keberadaan Tuhan dengan menghayati (menyayangi) segala ciptaannya berupa alam semesta ini -> never to ruin the earth. We can thank 2 God thru praying and love our green, appreciate with what God give to the creations.

FYI, Bunawijaya: pemilik perusahaan IMS (International Movers and Storage Co.) di bidang ekspedisi barang / logistik, pelukis realis lanskap, mantan atlit basket nasional, pegolf, dan juga pebalet. Beliau kini masih aktif di PERBAKIN (Persatuan menembak dan berburu Indonesia), menjadi pelatih golf, dan hampir keseharian aktivitasnya adalah berjelajah ke hutan-hutan atau laut dimana beliau menemukan objek-objek lukisnya, dan tentunya untuk merasakan satu dengan alam…

Semoga bermanfaat sharing pengalaman sesi ini

selamat menunaikan ibadah puasa teman-teman :)

dalam foto ini (kiri-kanan): Pak Lili (ex pelatih AU Srilanka), Bu farijah, saya, pak Bunawijaya, Sherika, Pak Dodi (pilot)






Sunday, January 10, 2010

Hening Berbisik

Di dalam sini.

Jam berdetak, hening menggema, musik mengalun asik sendiri, tidak ada obrolan di dunia maya, telepati tertutup, mata memandangi foto2 yg berbicara dan tertawa hanya untuk mereka, tidak menggugah hati, hampa, dan hambar, lagu usang tidak memberi kesan, pikiran sedang berjelajah ke dunia angan, cicak-cicak saling berdecak di dinding.

Lalu hening menggema lagi bersama suara2 pengiringnya.

AH

Ingin menyendiri dahulu.

... ... ...

... ... ...

Mungkin di sini tahu, mereka sedang menanti sapa dan gurau persahabatan.


Di luar sana.

Deru kendaraan saling berkejaran dengan angin, jalan mencambuk kaca-kaca dengan sisa air hujan yang terganggu bising, lampu kota berkedip-kedip pahit meminta dibunuh saja, bias cahaya tersingkap gelap, PKL yang kedinginan berharap segera siang karena ada kehidupan yang memberinya sesuap nasi, langit berselaput awan tidak mau berbagi bintang, tiang bendera yang patah dibiarkan membeku oleh cuaca.

Lalu hening menggema lagi bersama suara2 pengiringnya.

AH

Ingin menjauh dahulu.

... ... ...

... ... ...

Mungkin di sana tahu, di sini sedang menenangkan jiwa dan pikiran.

Saturday, October 03, 2009

43

Jika kita baca kata-kata Tuhan yang murka dalam Kitab Suci, si manusia itu seakan-akan bukan ciptaan-Nya lagi. Dalam artian tertentu, ada sesuatu yang berhasil – manusia bisa menakjubkan dalam kemerdekaannya, dan sebab itu Iqbal mengingatkan kita bahwa makhluk ini adalah “wakil Tuhan di bumi”. Tapi juga ada sesuatu yang gagal.


Satu perkara yang tak henti-hentinya jadi persoalan teologis: tak bisakah kita menyimpulkan, bahwa kegagalan itu sesuatu yang niscaya? Tuhan memperlihatkan kuasa-Nya dalam diri manusia-di-dunia tapi makhluk itu juga justru yang praktis membatasi kehendak-Nya dan membuat kehendak itu tak bisa “jadi” mutlak.


Artinya Ia tak pernah selesai dengan manusia. Mungkin Ia tak pernah puas. Ia mencintainya tapi harus menyaksikan cacatnya.


"Tuhan & Hal-hal Yang Tak Selesai", Goenawan Mohamad