Pada waktu itu aku masih menduduki tingkat SMA. seperti orang2 bilang, usia di masa tingkat SMA ini adalah masa pencarian jati diri yang sebenarnya. Kurasakan hal yang sama, meski belum kutemukan yang sedang kucari itu. Jika perlu gambaran, aku adalah seorang yang kurang suka menonjolkan diri, tertutup,pasif, kurang percaya diri, merasa tidak ada yang menarik di sela2 aktivitas sehari2ku (cukup membosankan). Aku masih meragukan sifatku ini, karena aku kurang menikmatinya. Tapi tidak separah itu, karena aku mampu meraih prestasi akademik, meski tidak stabil, tapi setidaknya ada yang bisa kubanggakan dari hasil aktivitas keseharianku.
Sejak kecil aku menyukai musik, dulu yang kugemari adalah musik klasik. Mungkin hal inilah yang membuatku tertarik bermain alat musik, meski tidak kugeluti, hanya untuk mengisi waktu luang. Aku pernah menyempatkan diri kursus piano di Elfa's (sebenarnya yang kuinginkan adalah belajar biola). Tapi tidak bertahan lama, karena bentrok waktu dengan ujian kelulusan, aku tidak bisa 'sambil menyelam minum air', yang kurasakan kursus piano telah banyak menghambat waktu belajarku. Di samping tidak memiliki fasilitas, aku jadi tidak leluasa berlatih setiap saat. Sangat disayangkan, berat untuk meninggalkan hobi bermain musikku... Tapi, itu bukanlah masalah bagiku, karena aku masih bisa belajar gitar di rumah (tanpa kursus). Aku mulai belajar gitar sejak SMA kelas 1.
Bermain gitar telah memberikanku 2 pengalaman menarik! Aku membentuk band dengan teman2ku, sebagai melodis. Pengalaman pertama adalah ketika perpisahan kakak kelasku, hahaha rasanya ingin kututupi saja wajahku dengan kantong plastik hitam setiap mengingat kejadian ini, karena pertunjukkanku bisa dibilang kurang lebih 'ancurrrr'! Pengalaman kedua, band kami dimintai 'manggung' di acara ultah adik kelasku. Berbeda dengan yang pertama, pertunjukkan kami tidak begitu memalukan seperti yang pertama, karena cukup memuaskan para penonton yang hadir dalam acara itu:) Menjelang kenaikan kelas 3, kami membubarkan band kami, memfokuskan diri untuk menghadapi kelulusan dan spmb.--3rd Class--
Berpijak di kelas baru, seperti biasa kami ingin mengubah warna cat kelas baru kami. Kami akan menggambari dinding kelas kami dengan gambar animasi. Teman2 memintaku sebagai penggambar kelas, beserta temanku lainnya yang mempunyai hobi menggambar. Kami menggambar Samurai X dengan kekasihnya (lupa nama) pada dinding bagian belakang kelas, dan pohon sakura pada dinding bagian samping kelas. Selama beberapa hari aku disibukkan oleh kegiatan mengecat kelas. Kaki dan tangan kami pegal2 karena dituntut harus apik, tapi kami senang melakukannya. Meski tampak beres, tapi sampai saat ini kumerasa gambar itu terkesan 'nanggung', karena aku tidak menyelesaikannya secara tuntas. Entah kenapa, mungkin karena malas melanjutkannya :p![]() |
Bermain gitar telah memberikanku 2 pengalaman menarik! Aku membentuk band dengan teman2ku, sebagai melodis. Pengalaman pertama adalah ketika perpisahan kakak kelasku, hahaha rasanya ingin kututupi saja wajahku dengan kantong plastik hitam setiap mengingat kejadian ini, karena pertunjukkanku bisa dibilang kurang lebih 'ancurrrr'! Pengalaman kedua, band kami dimintai 'manggung' di acara ultah adik kelasku. Berbeda dengan yang pertama, pertunjukkan kami tidak begitu memalukan seperti yang pertama, karena cukup memuaskan para penonton yang hadir dalam acara itu:) Menjelang kenaikan kelas 3, kami membubarkan band kami, memfokuskan diri untuk menghadapi kelulusan dan spmb.
Hari setelah kegiatan mengecat kelas, seorang temanku berkata bahwa aku ditawari untuk mengikuti lomba menggambar oleh guru gambar-teknikku. Untuk meyakinkan diri, aku menghadap langsung pada guruku, ternyata aku ditawari untuk ikut lomba rancang bangun yang diadakan oleh HMS (Himpunan Mahasiswa Sipil) ITB. Aku terkejut sekaligus bahagia pada saat itu juga, karena ini adalah peluang besar untuk menyalurkan talentaku, menggambar. Kupikir juga ini adalah pintu awalku memasuki dunia arsitektur, cita2ku sejak SMA kelas1. Tanpa berpikir panjang ku anggukkan tawaran guruku, kemudian mencari 2 orang untuk dijadikan tim pada lomba nanti. Dari sinilah permulaan atas pengalaman yang begitu berkesan dan memberi banyak hikmah bagiku...
--LRB theme--
Demi pencapaian tujuan mengembangkan dunia konstruksi Indonesia, HMS ITB ini mengadakan Lomba Rancang Bangun yang ditujukan untuk mahasiswa dan pelajar tingkat menengah atas. Peserta harus membuat kerangka jembatan dari bahan yang telah ditentukan. Bayangkan, kami harus membuat kerangka jembatan ini dari tusuk gigi! Berat tidak boleh lebih dari 100gr, panjang di antara 50-60 cm. Lomba ini dilaksanakan pada tanggal 5 Desember 2004. Pendaftaran paling lambat tanggal 9 Oktober 2004. Menjelang puasa, kami mempersiapkan segala sesuatunya sesuai dengan prosedur peraturan lomba. Karena kedua temanku berhalangan, jadi aku mewakilkan timku untuk mendaftarkan diri ke sana.
---hari aku daftar--- Aku ditemani ibuku pergi ke Bandung. Sebelum pergi ke ITB, aku menyempatkan diri berfoto 3x4 sebagai syarat pengisian formulir pendaftaran. Cuaca pada saat itu tidak cerah, gerimis membasahi bumi. Sambil memasuki gerbang ITB, ibu mencari tempat untuk memakirkan kendaraan. Kebetulan letak gedung Fakultas Teknik Sipil tidak jauh dari gerbang ITB, kamu tinggal belok kiri dan disana sudah tersedia lapangan parkir untuk mobilmu. Katanya gedung ini adalah gedung bersejarah. Konon presiden RI pertama, Ir.Soekarno,pernah kuliah di gedung ini, bidang sipil. Turun dari mobil, kami segera berlari ke dalam gedung, menghindari gerimis yang sedari tadi turun tiada henti. Tidak mudah mencari tempat pendaftaran, gedung ini cukup besar. Dengan cepat kulihat sebuah ruangan sempit bercahaya (seperti kantor, penuh dengan lemari berisi buku dan arsip2). Kutemukan di dalamnya seseorang sedang berhadapan dengan layar komputer, mungkin salah satu dosen di kampus ini. Segera saja kutanyakan tentang lomba ini. Tapi beliau mengakui kurang mengetahui banyak mengenai LRB, dan menyarankanku untuk pergi ke Himpunan, berada tepat di ujung lorong ini. Beberapa langkah aku sudah berada di ujung lorong, di sana mataku mendapatkan beberapa mahasiswa sedang berbincang sambil bercanda di beranda ruangan yang kutuju, mungkin tempat ini adalah himpunan yang orang tadi maksudkan. Seorang pria bersosok tinggi berkacamata sedang berdiri di depan ruang itu. Dengan ragu kudekati dan kutanyakan tentang LRB. Sayangnya para panitia sedang tidak berada di tempat, tapi untungnya dia tidak menolak kuserahkan formulir dan biaya pendaftaran, sekalian dititipkan. Sambil mengurus formulir pendaftaran yang belum terisi, dia menanyakan asal sekolahku. Kujawab saja apa adanya, "dari Garut, 1 Tarogong"... (Tahukah kau? Ini adalah awal 'kisah baruku'...)
Puasa telah tiba, aku disibukkan oleh pekerjaan lomba. Berminggu2 aku terus begadang mengerjakan kerangka ini, tak terasa berat badanku pun turun hingga 4 kg, mungkin karena saat itu bulan ramadhan. Karena kesibukkan ini aku kurang memperhatikan kesehatan tubuhku, alhasil tiba2 saja aku harus beristirahat selama beberapa hari, radang tenggorokan dan kena anemia. Tapi itu tidak berlangsung lama. Kulanjutkan pekerjaan lomba hingga saat pelaksanaan tiba...
3 Desember 2004, kami diminta datang ke ITB pada malam hari oleh pendamping kami. Sebenarnya ini tidak termasuk program lomba, tetapi kami banyak mendapatkan pengarahan dari pendamping kami pada malam itu. Waktu, tempat, dan apa saja yang boleh dan tidak boleh kami lakukan pada saat lomba berlangsung. Di sela2 pengarahan kami berbincang mengenai apa saja, tidak terpaku pada masalah lomba. Ini menjadikan kami lebih dekat dengan pendamping kami, hitung-hitung menghilangkan ketegangan akan menghadapi lomba:) Malam itu kami menginap di rumah saudaraku, daerah Cipaganti.
4 Desember 2004, pagi sekali kami bergegas menyiapkan segalanya untuk dibawa ke tempat perlombaan nanti. Tubuhku letih sekali, karena malam itu kami masih menyelesaikan sisa pekerjaan kami, tidak ada kesempatan untuk beristirahat. Temanku rupanya terkena penyakit migren, jadi aku yang menyelesaikan gambar desain kerangka kami. Uwa menyuruh kami untuk sarapan pagi terlebih dahulu. Meski tubuhku terasa lemas, tapi entah mengapa aku benar2 kehilangan nafsu makan. Kegelisahanku akan menghadapi LRB ini didukung oleh virus flu yang betah menyerang tubuhku. Sebelum jam 7, kakak temanku sudah 'stand by' di depan rumah saudaraku, siap mengantar kami ke ITB. Sepanjang perjalanan kami merasakan ketegangan yang sama, seperti akan menghadapi sesuatu yang sangat buesarrr...Tapi ketegangankupun surut setiap ku berdoa, memohon perlindunganNya, dan berusaha untuk selalu optimis! Setelah tiba di lapangan parkir, kami bertemu pendamping kami dan langsung menuju tempat LRB, area Plasa Widya. Di sana terlihat para panitia yang masih mempersiapkan pembukaan acara LRB, ada beberapa peserta yang sudah datang, duduk di tempat yang tersedia. Kami disuruh mengisi daftar hadir, menandatangani pada kolom yang ada, kemudian mengambil name tag yang akan kita tulis dengan nama kita sendiri. Sebelum memulai pekerjaan, kami mengikuti acara hiburan sebagai pembukaan LRB. Kemudian barulah kami menyelesaikan kerangka jembatan kami...tak terasa waktu lohor dan makan siang telah tiba. Kami disarankan untuk break selama waktu yang telah diijinkan. Setelah break, 4 jam berlalu, kerangka jembatan kami terselesaikan tepat pada saat waktu pengerjaan harus diberhentikan...Haaah...aku menghela napas panjang, akhirnya jembatan kami selesai sesuai dengan konstruksi yang kami harapkan.(Hix...HOREEE, ku terharu). Para panitia melihat hasil usaha kami, tidak terduga mereka memuji hasil kerja kami hehe...Ucapan mereka telah memberi rasa optimis untuk bisa memenangkan perlombaan ini. Selesai acara, kami melihat2 kerangka jembatan milik peserta lain, bagus dan tidak kalah menarik!
5 Desember 2004, kami kembali ke area Plasa Widya, menghadapi uji presentasi dan uji kekuatan jembatan. Sebelumnya aku panik sekali, karena tidak mendapatkan informasi akan diuji presentasi atas kerangka jembatan yang dibuat. Aku bingung harus berbicara apa nanti pada saat presentasi berlangsung. Pendamping kami menenangkan kami agar tidak panik, katanya waktu presentasi tidak akan mencapai 5 menit. Hm..sedikit membuatku lebih tenang, meski belum tahu jawaban apa yang nanti harus dilontarkan atas pertanyaan juri. Setelah beberapa peserta dipanggil, tibalah giliran kami menuju panggung untuk presentasi. Oh...Kupikir....benar2 tidak lebih dari 5 menit, nyatanya lebih dari 10 menit!!! ugh, rasanya malu sekali waktu kami berhadapan dengan mereka. Kuakui jawaban kami tidak ada yang membantu menambah nilai:( Selama hidupku, aku tidak pernah berani berkata di depan umum, sisi burukku. Dan sekarang!! sedang dihadapkan dengan 2 orang ITB, S2!!!????!!(kepalaku pusing sekali pada waktu itu?). Bagaimana ini bisa terjadi aku tidak tahu jawabnya, tapi banyak memberi segi positifnya, terutama membuatku lebih berani untuk berbicara, percaya diri dan dituntut agar selalu bisa berpikir rasional. Ini kujadikan pelajaran berarti...
Setelah break salat lohor dan makan siang, jembatan kami akan diuji kekuatan, seberapa kuat jembatan itu bisa menahan beban yang tergantung. Hingga pada permukaan jembatan itu terjadi lendutan, maka pembebanan pun dihentikan. Sayangnya jembatan kami hanya kuat menahan beban hingga 250gr, sedangkan jembatan terkuat adalah dari SMU 87 Jakarta, mampu menahan hingga 1kg! Kusalutkan untuk 87 Jkt, karena benar2 memperhitungkan kekuatan jembatannya. Yah..akhirnya pengujian berakhir, kami dipersilakan untuk melaksanakan salat ashar dan break cukup lama sampai tiba pengumuman siapa yang berhasil meraih juara. Kumanfaatkan waktu break untuk melepaskan kelelahanku di masjid Salman, depan ITB. Tanpa kusadari aku telah tertidur selama beberapa jam, sampai ada yang menyadarkanku, ponselku berdering. Aku segera berlari menuju area Plasa Widya, setelah seseorang memberitahuku pengumuman baru akan dilaksanakan. Tiba di sana sedang diumumkan siapa yang menjadi juara. Dan SMU 87 lah yang memenangkan juara 1 dan 2, sedang juara 3 diraih oleh SMU Ursula Jakarta. Putuslah harapan kami untuk bisa meraih juara.....Tapi..hey..! sebentar, kami masih mempunyai secercah harapan, dan itu segera terkabul!:D Kami mendapat Juara Terfavorit!! ya! Nama itu adalah nama sekolah kami, nama yang baru saja mereka panggil. Alhamdulillah...Allah selalu mendengar do'a kami, tidak sia2 lah usaha kami selama ini, telah mengorbankan waktu dan tenaga yang cukup besar menurut kami.