Tuesday, February 24, 2009

Ayo lah...

… … … …

Dan kakiku kesusahan melangkah

Seperti ada tangan yang mencengkeram erat

Padahal hanya batu-batu kecil saja yang tercecer

Di atas jalan yang sedikit berkelok


“Kau lihat langit itu?” kata siang,

matahari tidak akan menunggu untuk terbenam

sampai kau berani tengadah!

“Kau lihat langit itu?” kata malam,,

bintang tidak akan menunggu untuk bercahaya

sampai kau berani berlari!

Lalu aku menyimak detak detik,

waktu tidak akan menunggu,

sampai aku mau melompat tinggi!

… … … …


“And as I try to make my way, to the ordinary world, I will learn to survive…”

*AKKKH!!!! Habis kata-kata!!! jelek. Pesannya: AYO MULAI KERJA PEMALAS!!!

Monday, February 16, 2009

Through Her Eyes :''(

She never really had a chance
On that fateful moonlit night
Sacrificed without a fight
A victim of her circumstance
Now that I've become aware
And I've exposed this tragedy
A sadness grows inside of me
It all seems so unfair
I'm learning all about my life
By looking through her eyes
Just beyond the churchyard gates
Where the grass is overgrown
I saw the writing on her stone
I felt like I would suffocate
Inloving memory of our child
So innocent, eyes open wide
I felt so empty as I cried
Like part of me had died
I'm learning all about my life
By looking through her eyes
And as her image
Wandered through my head
I wept just like a baby
As I lay awake in bed
And I know what it's like
To lose someone you love
And this felt just the same
She wasn't given any choice
Desperation stole her voice
I've been given so much more in life
I've got a son, I've got a wife
I had to suffer one last time
To grieve for her and say goodbye
Relive the anguish of my past
To find out who I was at last
The door has opened wide
I'm turning with the tide
Looking through her eyes

by: Dream Theater

Tuesday, February 10, 2009

Kepada: angin

10 Februari 2009 11:36 PM


Angin bertanya “apakah hanya akan berlalu seperti angin”. Berputar-putar dalam 1 ruang. Sesaat. Lalu kembali mencari ruang lain untuk dikunjungi, dialiri. Seakan tiap ruang itu yang meminta kunjungan semata, tanpa memohon untuk tinggal. Pada akhirnya angin akan terus berjalan kemana pun dia pergi. Dia hanya disyukuri ketika terik matahari menyalak tubuh penuh keringat, tapi digerutu ketika hujan deras menampar bumi. Katanya “Hanya setengah penuh, yang mereka inginkan dariku”, lalu angin berembus melewati rongga-rongga tak terjamah sadar, kecewa dan mata sayu tertunduk. Ingin terhapus dari rasa (ke)hilang(an). Lebih baik hilang daripada tidak dibutuhkan. Datang dan pergi, seperti sepi dan sendiri.

Abstraksi sebuah rasa, untuk angin.

Apakah selalu ada akhir dari satu cerita yang sedang berkisah latar warna merah muda? Begitu bisiknya.

Lagi, kubu2hkan warna baru.

Ikuti kata hati, maka di depan ku akan tahu antara sesal dan tidak.