Bisakah kau lihat kelopak2 bunga itu, merah muda dan harum lembut. Bergelayutan mengitari cinta. Dan setiap kali ku kembali bertemu denganmu kelopak2 itu menghiasi hatiku. Bisakah kau lihat. Harummu tumbuhkan setiap kelopak itu, kelopak merah muda; cinta.
Meski hujan tidak menyahut reda, meski dingin setusuk jarum, kelopak2 itu mampu menyelimut hatiku.
(19 Apr'07)
Dalam ruang lain.
Ada waktu lampau betah merapat pada kekinian
Ada puisi basi masih terlontar sambil menerawang wajah yang sama
Ada layar klasik tentang 2 manusia;bercerita cuap-cuap ke entah berantah
Ada sembunyi kata di belakang tawa;kata mesra dan ingin bilang sayang
Ada jam serasa detik;ingin menarik waktu sekuatnya
Ada pula perpisahan yang dimusuhi;saat malam sudah berdiri di depan pintu
Ada awal bahagia dan akhir sesal;karena cinta cukup menjadi puingpuing bahasa diam
Hati;Retak
Hati;Acak(20 Apr'07)
AKU bertanya pada alam: haruskah menghapus cinta yang sempat mampir? yang justru bahagiaku ada karenanya? bukankah itu kedalaman cinta sebenarnya? tapi terlarang muncul ke permukaan?
Padahal dia adalah cinta; yang memaksakan bahagia musti kuluapkan,dan memunculkan keindahan diri sebenarnya,dan menampakkan mata yang cantik,dan mengukirkan senyum tiada duanya, dan...ah hanya pada bahasa-diam lagi aku berteriak mengadu. tertahan. terhalang. sebuah kenyataan.(21 Apr'07) Shit! I’m damn in love…My Eternal Poet
Kpd anak kecil pun aku sampai cemburu diamdiam. Yah, Aku menikmati benar, permainan sembunyi rasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari sikapnya, yang biasabiasa saja, yang tidak akan ada canggung, atau risih. Aku menikmati benar, perihnya dada ini, karena permainan sembunyi rasa, adalah sakit, yang dipurapurakan, demi sebuah cinta yang bertahan.
Disini, sayupsayup tercium harumnya.
(22 Apr’07)
bahasa diam iniadalah persembahan
kepada pujangga abadiku