Hari ini aku menjalani ujian tengah semester hari ke-2, ‘Teknologi Bahan’. Menurutku tidak berjalan lancar dan tidak yakin mendapatkan nilai seperti yang kuharapan, meskipun jawabanku hampir menghabiskan sebanyak 4 halaman. Tidak sebaik hari pertama, ta apalah.
***
Memang benar kebahagiaan seseorang adalah terletak pada sikap dihargai dan diakui keberadaannya oleh orang lain, atau mungkin juga hanya bagi si sensitif saja yang berpikiran seperti itu? Aku tak tahu, layaknya akulah si sensitif itu. Sensitif, perasa yang peka, terlalu peka. Atau mungkin juga untuk yang kurang kasih sayang? Bukan, aku tahu pernyataan ini salah, jika seseorang itu adalah diriku, aku tidak merasa kurang kasih sayang. Bukanlah kurang kasih sayang, melainkan kurangnya kehangatan dan ketulusan dari orang lain. Itulah yang dirasakan si sensitif.
Individualis, adalah wajar dimiliki oleh siapapun, pada masanya. Bukan berarti individualis harus direfleksikan dengan sikap dingin dan tak ramah, karenanya hanya akan membuat orang yang mendapatkan ketakramahan itu merasa tak dihargai, atau tak dianggap siapa-siapa. Hal ini terlihat sepele, tapi bisa menjatuhkan mental seseorang dengan perlahan, atau mengurangi rasa percaya diri secara berkala. Bahkan, katakanlah korban perasaan, ini akan membentuk watak yang sama dengan sikap yang dia peroleh dari lingkungannya. Parahnya lagi, korban ini akan memmbentengi diri dari interaksi luar, menjadi pasif dan tidak peduli dengan lingkungannya. Akhirnya rasa kepercayaan terhadap or ang lain memudar.
No comments:
Post a Comment