Tuesday, March 17, 2009

45

45


Praha, atau Den Haag, atau… Kota ini seperti tak terbiasa juga dengan dingin, dengan malam, meskipun berabad-abad ia berdiri, setengah lelah. Gedung-gedung menanggungkan musim tak putus-putusnya, tapi juga di ujung Oktober ini ada yang terasa mengkeret oleh cuaca; plasa, taman, boulevard, juga pasar yang tadi siang terhampar. Hujan menjatuhkan ujungnya yang tajam, kerap, dingi. Dari beberapa sudut, lampu jalan –masing-masing seperti bersendiri- adalah cahaya yang kuyup. Angin mengaum. Kita mendengar derunya lewat di antara celah yang terbentuk oleh bangunan tinggi.


Tak ada orang di jalanan. Semakin larut malam, semakin tampak aspal dan semen bertambah datar. Mobil melintas satu-satu, seperti terpaksa. Trem, bahkan dengan derak roda pada rel, jadi bagian dari sunyi yang tak dikehendaki.


Kota ini seperti tak terbiasa juga dengan malam … Tapi benarkah? Tiap kota mengandung paras yang pura-pura. Tiap kota punya wajah yang hanya kita ingat ketika gelap, hujan, dingin, Desember, datang. Tiap kota adalah ruang scene dan ob-scene: ada yang dipertontonkan, ada yang disingkirkan seperti najis.


Gelandangan yang merapat ke pojok-pojok. Para penjaga malam yang merasa sial. Pelacur yang berhalau. Bajingan yang selamanya siap. Di sebelah lain dari poster iklan Gucci yang dipasang di halte-halte, mungkin ada anak kecil penjual korek api dari cerita Andersen, seorang bocah lapar yang mencoba melawan beku, di sebuah hari Natal, dengan menyalakan batang-batang geretan satu demi satu, sampai habis. Kita tahu ia akan mati, tak nampak.


Karya : Goenawan Mohamad, buku: Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai

She was beautiful; for Cavatina, the Deer Hunter -moment-

15 Maret 2009


Halo, pujangga… seperti kata malam sempat berdendang… Ketidakdugaan selalu bergandengan dengan tiba-tiba; harummu berkelebat nyata melewati tubuh dan bayangan. Setelah punggungmu berbalik… ; ada dua pasang mata saling melihat tawa dan kenang, she was beautiful* menjadi bahan bicara dan persinggahan senyuman. Di atas sana si purnama ikut senang, hitam mencurah putih, tanpa harus menunggu lagi hujan datang…

Seolah waktu sengaja kembali. Seolah waktu sengaja hampiri. Pertemuan tidak diharap-harap.


Karena sang pujangga. Lagi aku berkata-kata.


*lagu karya S.Meyers

Saturday, March 07, 2009

- Kepada pemberi buku-


Bulan Februari, malam seringkali mengecup sayang kening ini. Kening yang terjaga melulu sambil menggapai mimpi asli. Ada peri-peri yang tak nyana menemani dengan senang hati. Ada gemaan suara-suara hening yang terdengar cukup bening. Disini, duduk menyimak gores garis tegak lekuknya yang rapi. Tangkai-tangkai berkelopak merah dan putih kusam namun harum semerbak setiap jelang pagi. Bukankah serupa kehidupan siang saja malam-malam ini. Kesendirian yang tak sendiri. Ada keceriaan dan kebahagiaan tersisip, lalu cukupkah ku sekedar ucap syukur atas diri dan semesta anugerah Illahi…


Terima Kasih*

:)


NB: Tidakkah langit mharap apapun dari pepohon meski dia tlah mberi kehidupan lewat gerimis. Mungkinkah cukup dengan warnanya saja...bisa sejukkan mata sang langit.

Begitulah pertanyaan yang kunyatakan. Atau pernyataan yang kutanyakan.


*Persembahan atas pemberian buku "Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai" karya Goenawan Mohamad.