Monday, September 22, 2008

Ingat, Ingin

Setelah, melihat wajah-wajah serupa pada detik yang sama

Seperti, terjebak oleh kekinian yang usang dilekang waktu

Otakku bisa cerdas memutar detil-detil memori para wajah rupawan itu


Jika, logika kuhentak berhenti berdetak

Maka, ingin aku menggenggamnya kembali;

pemilik para wajah rupawan


Skeptis, oleh ingatan yang akan-tidakakan-atau-belum muncul

Tapi, naluri berbisik;

akan datang pada waktu entah berapa hari lagi


Namun, bukan untuk kutunggu atau kuharap

Pun, warna baru akan terbubuh;

bentuk yang berbeda


Bolehkah, meminta akan terjadinya;

bukan hanya bayang-bayang pemilik para wajah rupawan


Inilah kejenuhan yang ada;

Ingin kembali pada satu masa


22 September 2008, 05:45 AM

INFILL DEVELOPMENT

Bagi para arsitek yang peduli terhadap kehidupan masyarakat di kota, sudah barang tentu akan memperhatikan kondisi lingkungan kota yang kian memiliki konotasi negatif. Pada peradaban sekarang, manusia semakin banyak yang berkota; melakukan perpindahan dari luar kota ke kota. Fakta yang ada, semakin banyak orang yang tinggal di urban area (daerah perkotaan), malah semakin rendah quality of livingnya : dengan jumlah penduduk yang bertambah dan lahan yang terbatas, akibatnya seringkali terjadi permukiman liar. Itu baru salah satu, terlalu banyak masalah dalam kota yang mengganggu ketentraman kehidupan di dalamnya. Ironisnya, orang-orang kota jadi membangun di daerah sub-urban (pinggiran kota) karena sudah tidak merasa nyaman lagi tinggal di sana.

Siapapun yang pernah jalan-jalan sekedar keliling kota kerap kali akan melihat adanya kekontrasan ruang sosial pada fisik-fisik bangunan. Di mana ada bangunan megah, di situ ada bangunan kumuh (rata-rata jadi background bangunan megahnya). Dosen saya berkata, “permukiman di Indonesia itu layaknya tissue kusut dan terkoyak”, tidak tertata, tampak kumuh, dan berserakan di mana-mana. Apakah itu mengganggu visual kita? Dari segi penataan, iya. Mungkin ini yang membangun paradigma beberapa kalangan bahwa permukiman (kelas menengah ke bawah) itu berkesan rendahan atau kampungan, tidak layak muncul di perkotaan, gusur saja! Lalu bangun jadi mall-mall, kesempatan bagi kita untuk dijadikan kekuatan pasar! Wah… tapi siapa yang tahu diluar segi penataan yang amburadul, bahwa sebenarnya di dalam kampung-kampung kota itulah terdapat spirit keterikatan sosial, ada budaya kebersamaan serta gotong royong, yang mustinya tidak bisa dihilangkan dari diri mereka, dan ada fisik bangunan ciri khas kampung yang bisa dijadikan elemen estetika kota, menambah keragaman budaya, kan, atau malah menjadi inspirasi, diluar segi penataan dan perawatan lho.

Lalu bagaimana kita membenahi masalah perkembangan kota ini? Bagaimana meningkatkan quality of living pada suatu kota ? Nah…gabungan masukan dari kuliah lain dan kuliah tadi niiih… Istilah umumnya dikenal sebagai Urban Renewal (Peremajaan Kota), terbagi lagi menjadi 3 jenis: slum relocation, slum redevelopment, up grading in place . Yah, sekedar pengenalan istilah dulu saja. Jenis yang dipilih dari 3 jenis tadi adalah slum redevelopment. Konsep simplenya: perumahan dihancurkan, orang-orang dipindahkan sementara, dibangun jadi lebih baik, lalu orang-orangnya masuk lagi. Cara dari jenis ini dinamakan lagi infill development, yaitu mengembangkan permukiman dengan menyisipkan di antara kawasan yang sudah ada. Jadi tidak semua dibongkar. Tetap, harus melihat kondisi sekitarnya serta hasilnya harus tetap menjadi bagian dari kota. Tapi, tidak semudah itu, jelas ada kesulitannya disini, pelaku infill development ini bukan hanya perencana bangunan tetapi juga harus termasuk warganya. Karena yang akan dibenah adalah tempat tinggal warga, maka jelas harus ada kesepakatan bersama. Langkah-langkahnya:
1. Sosialisasi; untuk mencegah resistensi masyarakat, kita memperkenalkan program yang akan dijalankan. Untuk lebih bagus belum tentu mereka mau, tetapi untuk lebih baik jelas mereka akan mau.
2. Internalisasi; tujuannya supaya program ini menjadi kepentingan mereka, dengan cara menampung aspirasi masyarakat.
3. Institutionalisasi; mengeksekusi atau menjalankan aspirasi, seperti pembagian tugas dan peran, siapa melakukan apa, serta mengenali hak dan kewajiban.
4. Fisik; mulai melakukan perencanaan bangunan dengan fungsi-fungsi yang sudah ditentukan. Tentunya bagian ini juga rumit dan masih banyak kendala yang mungkin akan timbul dalam pelaksanaannya.
Mengingat kembali bahwa arsitek itu dituntut untuk berpikir secara holistik. Keempat langkah barusan disebut sebagai Social Engineering, dan sangat penting, karena bisa mengubah budaya masyarakat ke arah yang lebih baik.

So, these’re great knowledge and feedback for me, n for us :D (puaah..panjang yaaa)

Wednesday, September 03, 2008

Sustainable Architecture

Finally, I can understand what d lecture’s mean to say… Sustainable Architecture. Mungkin sulit untuk diartikan secara harfiah. Yang menjadi esensinya adalah mampu menangkap substansi atau makna dari kata itu. Ya… ada yang bilang sebenarnya sama saja artinya dengan Green Building, atau Green Architecture, atau Bioclimatic Design, dan beberapa istilah lainya namun sama arti dan makna. Mungkin akan mengalami perubahan istilah lagi satu waktu, beda ‘penggerak’ beda sebutan, sesuai konsep spesifiknya masing-masing. Jadi, sustainable architecture ini mengacu pada E4, kependekan dari Energy-Efficiency+Effective Environment, 4 kata yang menjadi topik utama arsitektur kini (dan dulu), kembali marak diangkat dalam dunia arsitektur. Apa sebab? Global Warming. Setidaknya mampu mengurangi atau mencegah efek dari Global Warming. Sustainable architecture ini merupakan konsep desain arsitektur yang diharapkan ramah lingkungan dengan penggunaan hemat energi, mengganti penggunaan energi mekanis dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi alam (tanpa merusak alam itu). Bahkan mengembalikan (menghasilkan) energy yang telah kita gunakan.. Topik ini bukan lagi hal baru untuk diketahui, tetapi tetap, perlu diangkat kesadaran akan hal ini bagi para arsitek. Karena arsiteklah yang sebenarnya berperan besar dalam mencari solusi baru bagi masalah Global Environment, dengan menciptakan bangunan ramah lingkungan untuk masa depan. Arsitek tertuntut untuk berpikir holistic. Marilah kembali melihat tujuan utama sebagai arsitek sejati. Keep the world save for people’s life. Dan saya senang bisa melihat dengan jelas tujuan itu (karena membuat saya sadar tentunya…)

The air for breath, the Sun for light ,Greenery… and Water…,are the symbols and signs of living world…

Tuesday, September 02, 2008

OW! BESOK STUDIO

… … … … … … … … MELIHAT. DALAM IMAJI. KUTOREHKAN. SKETSA. AKH. ABSTRAK! KENAPA TIDAK JELAS?? GANTI… … … … … … MELIHAT. DALAM IMAJI. DIAM. MENGINGAT. KEMBALI MENARILAH TANGAN ITU, ATAU BERSITAN PIKIRAN SAJA? AH, MASIH ABSTRAK. … … … … … TERUS…TERUS…TERUS…AKHIRNYA BOSAN. BEGINILAH AKU, MENCARI DENGAN KERAS, DAN DIAM, MENATAP WAKTU TANPA GEMING ATAU SUARA. AKU SEMAKIN AUTIS, PADA SORAK SORAI DUNIA. INGIN AKU MENJADI SEMPURNA, CEPAT TANGGAP DALAM SEGALA HAL YANG MENYAPA, DENGAN BEGITU AKU BISA PERCAYA, BAHWA AKU BISA. INGIN AKU TETAP MAJU, TANPA HARUS LALU SAMBIL BISU, MEMPERTANYAKAN APAKAH AKU ORANG YANG MAMPU. ‘MEREKA’ SEMAKIN MENDEKAT, APAKAH AKU ORANG YANG TEPAT. BERHARIHARI AKU MEYAKINKAN DIRI, SEMANGAT BERTAHAN TERPATRI, TAPI ESOK DAN LUSA BUKAN SESUATU YANG SABAR MENUNGGU SELAMA 3 HARI, SEMENTARA AKU MASIH LEPAS DARI YANG KUCARI, NSPIRASI…(SIAL!). AKU TIDAK INGIN MUNDUR, BESOK AKAN TIBA SEBENTAR LAGI. BOLEHKAH AKU BERHARAP MENJADI SEMPURNA?

BAH, TULIS APA SI AKU INI, KESAL JIKA INSPIRASI TERLALU BANYAK! TERLALU MENUMPUK! SULIT KUPILIH, ATAU TIDAK ADA INSPIRASI SAMA SEKALI?? TIDUR DULU AH. MARI BERNYANYI SAJA HAI PIKIRANKU, JANGAN KAU BANYAK BERPIKIR, NANTI BISA MIRING. MARI PEJAM SAJA HAI MATAKU. AYO KITA BERMAIN. DALAM GELAP TERANG MIMPIMIMPI.