Wahai Kekasih, adakah mata hatinya melihat ke dalam jiwaku yang terpaut.
Kegelisahan yang tak berani sungguh mengundang air mata yang bisu.
Manusia yang sadar siapa hanya sanggup menunggu.
Kegelisahan yang tak berani sungguh mengundang air mata yang bisu.
Manusia yang sadar siapa hanya sanggup menunggu.
Wahai Kekasih, sambutkan kelembutan jiwanya sebagai penyejuk hati.
Bilamanakah bayang2 ini sedang berselimut pula di balik khayalnya.
Bilamanakah bayang2 ini sedang berselimut pula di balik khayalnya.
Wahai Kekasih, kesankan satu perjumpaan menjadi pertemuan yang berarti.
Membawa pada kisah di bawah tabur kasih-Mu.
Membawa pada kisah di bawah tabur kasih-Mu.
Wahai Kekasih, wahai, mohonku agar dia mendengar beritaku dan menggenggam hangat harapku.
(2 Agustus 2006, 23:14)
No comments:
Post a Comment