SEBELAH HATI
(I)Angin tenang membawaku kembali pada kertas2 yang tergulung itu
Aku hanya pandai berkelit kata pada diri:
bayanganku berkaca2 dalam matanya
Setiap kubuka kembali kisah malam
bukanlah para tokoh cerita
namun hanya dia yang bisa mengembalikan waktuku
pada 1 perasaan yang begitu agung
“Pujangga abadiku,
(II)Tanganku tidak mungkin menjangkau wajahmu
karena kau bukan untuk menyapaku
atau tanpa melihatku sekejap pun
kau tetap pujanggaku
Bahasaku, adalah dari duniamu
Cinta karena mu adalah sebuah karunia
Diam bahasa adalah karena cinta padamu
Dan kata2 hanya pada benda ku mengadu
Rasa yang terpatri adalah karena kau bukan tertuju padaku
Bilamanakah kau akan mengetahui, sungguh ta sanggup
Malam mendengarku
mungkinkah langit membuatmu tengadah
dan tunjukkan cahaya ku yang sedang melihatmu”.
(III)Malam hening, alam berbisik halus
Ada dingin menusuk tubuh
Pohon2 tidak banyak bergoyang
Daun2 pun masih tersandar rapi pada rantingnya
Dalam kesunyiannya, mimpi lampau mengusik.
11 Agt’ 06, 00:35
-----------------------------------------------------------
SEKEDAR BAYANGAN
Wahai pujanggaku
Tidak ada yang tahu
Atau hanya yang tidak menahu yang tahu
Bahwa kagumku
Hanya berada di belakangmu
Dan mataku
Hanya melihat punggungmu
Kau berjalan
Aku menjadi bayangmu
…
Tgl bLn ’06 ,Jam:menit
---------------------------------------------------------
SUKA ITU BIASA
‘Suka itu biasa
Tapi rindu lain cerita…
Aku duduk
Ada sekelebat ingat
Aku menulis
Ingat itu menghentikan tanganku
Aku diam
Semakin menjadi saja keusilannya
Aku belajar
Wah, buyar lah konsentrasiku
Aku tepis
Tidak mempan juga
Aku memejam mata
Malah semakin jelas bentuknya
Aku biarkan dia
Ada kupu-kupu berterbangan dalam perutku
Memanglah dia abstrak
Tapi
Semakin lama semakin menyiksa
Bikin insomnia
Dan roti sisa jadi berjamur
Biar-ku-nikmati keabstrakan itu
Karena 1 perasaan yang ingin kembali pada waktu
Adalah jejak kesan yang menapak dalam hati
16 Okt’ 06, 19:24
-------------------------------------------------------
TAKUT TERPUPUS
Perasaan takut seharusnya tidak boleh
Terkecuali hanya pada tentangNya
Namun aku takut
Pujanggaku mulai tertutup kabut dan menghilang
Karena tinggal harumnya yang ada padaku
Dan aku takut
Sisa sepoi wangi yang terbaur dengan udara
Pun akhirnya tak tersentuh
***
20 menit menjauh
Sudah lewat
Sudah ta ada berita
Cemas yang terpungkir
Harap yang terlawan
Dimanakah nada bahasa yang kaurangkai
Nada bagi tarian hatiku
Sesal ku mohon ada dan tiadamu
Kau akhirnya tiada di ujung tatap
Suara itu masih mengiang
Saat senyumku tergelak riang
Suara dalam tulisan yang terpupus
Rasa ini berbicara: senyumku sementara
***
Katanya; beralihlah sebentar
Pada kesenangan yang melupakan ketakutan”
Kukira dia sungguh menulis suara hatinya
Padahal dialah yang bisa menghapus ketakutan itu
19 Okt 2006