Celaka negara ini, kekuasaan ('negara') jahanam sudah tidak malu menelanjangi dirinya sendiri, mengoyak baju mereka, merobohkan pondasi mereka biasa berdiri, menghancurkan asasi pertahanan diri. Negara kita berada di ujung tombak kehancuran. Tidak ada lagi junjung tinggi 5 sila atau itaat konstitusi, tidak ada lagi Bhineka Tunggal Ika. Komunisme sedang dijalankan, imperialisme radikal digalakkan. Rakyat minoritas terbantai tercaci pedih. Rakyat jelata yang primitif dijadikan sebagai hewan keji pemangsa para komunitas pencinta damai dan bersih. Mereka dijadikan mainan dan batu loncatan menuju perubahan segala jubah dan tudung negara. Tidak boleh ada multikulturisme. Bagaimana negara bersetubuh dengan agama agar kekuasaan tak tersentuh, dan menggunakan bahasa sebagai senjata hebat dan perkasa menuju kekuasaan tertinggi. Apa yang akan terjadi pada negara ini??
Menangis dan sakit hati saya mendengar kisah dari seseorang yang bertemu langsung dengan korban Cikeusik, Pandeglang (pembantaian warga Ahmadiyah). Dia mendeskripsikan apa yang mereka lihat dan mereka rasakan secara fisik maupun psikis dari perlakuan prikehewanan massa saat menyerang mereka, dan itu berdampak cukup fatal hingga detik ini. Mereka sangat trauma dengan kejadian naas kemarin. Apalagi yang saya dapatkan hari ini? Baru saja saya melihat para penganut agama Kristen Protestan yang berbondong di jalanan, lokasi kota Bogor. Apa yang terjadi? Bupati Bogor baru saja mencabut ijin bangun Gereja di sana, sehingga mereka terpaksa beribadah di jalan. Mereka dituntun oleh aparat kepolisian menuju jalan untuk beribadah, sambil membawa tangkai bunga putih di genggaman sebagai tanda mereka penghuni gereja tersebut. Apalagi yang saya lihat hari ini? Saya membaca twitter teman yang memposting ‘’sriusan Menag nyuruh bongkar patung Buddha di Tanjung Balai, Sumut?:(((‘’ ... Istighfar ... See? Apa yang teman2 rasakan? Mungkin kalian ada yang hanya diam membaca tulisan singkat ini. Tanpa visualisasi apalagi merasakan tidak akan cukup mengusik hati.
Lalu, apa yang kita harus lakukan...? apa yang perlu kita renungkan...? Mereka semua adalah pencinta Tuhan, teman, cinta perdamaian dan persatuan. Mereka butuh hidup tentram. Apakah itu dilarang? Para cendekiawan dan wakil rakyat telah kalah oleh permainan kekuasaan. Atau menjadi a****g peliharaan kekuasaan? dengan rantai mengekang kuat di leher-leher mereka? #emosi. Hilanglah segala integrasi pengabdian ‘negara’ kepada rakyat ini, demi kekuasaan belaka. Jika sudah terjadi seperti ini, sekarang siapa yang telah menodai agama? Siapa yang bisa menghakimi semua ini? Faith is super privacy thing, that we must not judge bout other’s. Just let God decide!!
Saya sih lebih setuju dengan penggalan bio akun twitter om Wimar Witoelar: ‘saya ga mau mengubah pendapat orang yang sudah punya pendirian, tapi mau berbagi perspektif pada siapa saja. Dalam suasana sejuk’. Always do reflection of ourself.