45
Praha, atau Den Haag, atau… Kota ini seperti tak terbiasa juga dengan dingin, dengan malam, meskipun berabad-abad ia berdiri, setengah lelah. Gedung-gedung menanggungkan musim tak putus-putusnya, tapi juga di ujung Oktober ini ada yang terasa mengkeret oleh cuaca; plasa, taman, boulevard, juga pasar yang tadi siang terhampar. Hujan menjatuhkan ujungnya yang tajam, kerap, dingi. Dari beberapa sudut, lampu jalan –masing-masing seperti bersendiri- adalah cahaya yang kuyup. Angin mengaum. Kita mendengar derunya lewat di antara celah yang terbentuk oleh bangunan tinggi.
Tak ada orang di jalanan. Semakin larut malam, semakin tampak aspal dan semen bertambah datar. Mobil melintas satu-satu, seperti terpaksa. Trem, bahkan dengan derak roda pada rel, jadi bagian dari sunyi yang tak dikehendaki.
Kota ini seperti tak terbiasa juga dengan malam … Tapi benarkah? Tiap kota mengandung paras yang pura-pura. Tiap kota punya wajah yang hanya kita ingat ketika gelap, hujan, dingin, Desember, datang. Tiap kota adalah ruang scene dan ob-scene: ada yang dipertontonkan, ada yang disingkirkan seperti najis.
Gelandangan yang merapat ke pojok-pojok. Para penjaga malam yang merasa sial. Pelacur yang berhalau. Bajingan yang selamanya siap. Di sebelah lain dari poster iklan Gucci yang dipasang di halte-halte, mungkin ada anak kecil penjual korek api dari cerita Andersen, seorang bocah lapar yang mencoba melawan beku, di sebuah hari Natal, dengan menyalakan batang-batang geretan satu demi satu, sampai habis. Kita tahu ia akan mati, tak nampak.
Karya : Goenawan Mohamad, buku: Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai
2 comments:
Hii.........Gw minta izin, kalo suatu saat bagian dari tulisan blogmu,. saya kutif sebagai referency,. gk apa y......
tanks,
aku terus menyelami kedalaman samudra-mu!!
boleh2..tulisan yg 45 ini diambil dari karya Goenawan Mohamad ko
thx y
Post a Comment