Sunday, October 05, 2008

Dialog dengan hujan

Untuk 28 September 2008

Keyakinan yang pupus. Bisikan naluri itu sudah terjadi. Bertemu dengan pemilik wajah-wajah rupawan. Tapi 6 hari kemudian hanya bergumul dalam diri, kutahan pada rasa. Apakah memang bukan sebagian jalannya? Satu masa yang memang tidak bisa kembali? 6 hari menjelajah diri, menghasut ego yang selalu bergerak lebih cepat. Apakah sudah saatnya menjejaki jalan lain, sambil berjumpa dengan mimpi-mimpi yang pasti, lalu menjemput visi. Ini; hanya kata-kata hanya suara untuk seorang diri.


********************************************************************

Sang pujangga menyapa. Ah, ketidakterdugaan selalu bergandengan dengan tiba-tiba. Seperti sesuatu yang kadang menghibur sebuah harapan untuk sudut lain, fenomenal. Ditambah lagi jalanan merebah pasrah kehujanan. Lalu telinga ini mendengar dialog antara hati dan hujan;

Hti:”Aku sudah bertemu pemilik para wajah rupawan, ada harapan yg tak sampai”

Hujan:”Bukankah aku sudah datang menghiburmu?”

Hti:”Ya, terima kasih”

Hujan:”Mengapa kau seolah bersimpati pada kedatanganku, matamu bukan langit yang melelehkan aku.”

Hti:”Ya, padahal kau sudah datangkan sapaan pujangga pula…”

Hujan:”Lalu sebenarnya siapa sih pemilik para wajah rupawan itu?”

Hti:”… Pemilik sebenarnya adalah yang menciptakan kamu… tapi...”

...Akupun tertidur karena lelah.


5 Oktober 2008

2 comments:

Anonymous said...

Va'dove ti porta il cuore...

Reihan said...

???? terjemahin donk...