Monday, November 03, 2008

Rumah, Home, First Shelter.

Hujan asik berdendang lewat pantulan suara benda2 yang kena jatuhnya. Ada aku disini mendengar sayup-sayup irama beraturan atau tak beraturan itu. Bahkan irama itu membawa suasana melankolis datang mengkudeta keberadaan karakter resesif lainnya pada diri ini. Selagi itu, ada selewat renungan, munculnya hujan itu adalah anugerah sekaligus malapetaka bagi para manusia biadab, pengingat.

Anyway, that’s not the point.

Yang sekarang aku tulis bukan tentang hal baru, bukan juga mengungkapkan sesuatu yang terasa déjà vu, tetapi memang untuk yang keseribu kalinya, rasanya hati ini berteriak hingga meledak ingin kembali pada hangatnya ruang-ruang yang sudah melekat dan bersoulmate dengan jiwa karena lahir dan sama darah. Didalamnya, ada orang-orang yang mengerti aku daripada yg lain. Mereka, yang membuat ruang dan waktu menjadi berarti. Mereka, keluarga. Bukan ingin menyangkal anugerah atas teman-teman yang berada di dekatku sekarang, oh really thank God for that!! But, tetap, vakum didalam sini, kesepian, ada yg berbeda dari apa yang telah mereka berikan, pastinya, dan aku sedang mau: berada di dekat keluargaku, tidak harus berkomunikasi banyak, cukup dengan aku melihat mereka berada di depan mataku, cukup dengan ada mereka di dekatku, atau mendengar suara mereka, di rumah tercinta (ceilee). Merasa aku akan semakin jauh mungkin ya di waktu depan, karena tuntutan mandiri dan kedewasaan … Satu saat induk burung akan melepas anaknya untuk berjelajah hidup. Tapi, buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya kan.

Karena mereka, aku ingin pulang (sigh) T_T . (Lalu aku menyalahkan tugas kuliah karena tidak bisa pulang, ow bebaaan.)

No comments: