PUISI UNTUK PUISI
Puisi itu, expresi perasaan
marah menangis tertawa bahagia sedih luka harapan kenangan cinta cita rindu senyum doa
Puisi itu…ini dan itu
Puisi itu, ya katakata
Bebas lepas
Dari hati dan jiwa
Diam dari suara
Teriak dalam diam
Berbisik bisik, terkadang
Ya
17 Mei 07, 16:45
***
MAAF
Maaf,
Tak bisa kutulis banyak
Tinta habis
Tadi malam kugoresi langit
dengan namamu…
***
BULAN YANG GELISAH
Setiap hari bulan menjemput
“aku ingin tahu yang terjadi di bumi
ceritakanlah”
“bukankah kau di langit
yang menaungi bumi,
seharusnya kau lebih tahu dari aku”
“cahayaku tak berkuasa atas beton
buatan manusia”
“untuk apa jika kau tahu?”
tak dengar lagi bocahbocah bernyanyi
saat purnama”
“mereka terkurung tembok beton”
“tak lagi kulihat remaja bercengkrama
sambil memandangku”
“mereka dikerangkeng benteng beton”
“tak lagi kulihat laut terpesona memandangku”
“ia diselimuti atap beton”
“lalu, untuk apa aku ada?”
“aku tak tahu”
“bagiku, beton itu
lebih tebal dari tujuh lapis langit”
“aku tahu”
“sejengkal pun tak bisa aku menembusnya”
“aku tahu”
“lalu, aku harus bagaimana?”
“aku tak tahu”
“aku mengundurkan diri”
“kenapa?”
“aku kesepian”
“aku tahu”
Sejak itu bulan tak lagi menemuiku
Aku tenggelam dalam sesak yang pengap
tanpa bisa kutatap lagi langit
Bulan,
aku juga sepi
***
-Renungan Kloset- Rieke Diah Pitaloka
No comments:
Post a Comment