Monday, March 20, 2006

ITB FAIR 2006

19 Maret 2006

Pukul 10.10 tepat, aku mendapatan sms dari temanku Yulia; dia memintaku bertemu dengannya di Centra Campus saja, karena keberatan harus menjemputku keKosan, cape kataya, alasan yang masuk akal. Akupun langsung beranjak dari hadapan layar komputer, segera matikan winamp dan pergi ke tempat dia menungguku. Ya, di pagi yang cerah ini kami sudah berencana akan mengunjungi ITB fair. Seperti yang telah diinformasikan K’Goris pada malam sebelumnya, hari ini adalah puncak ITB fair. Macam2 pertunjukkan yang digelar diantaranya pameran finalis lomba riset mahasiswa, stand himpunan, lembaga penelitian, technology 4 children, talkshow dll… Kami tidak berniat lama2 disana, sekedar melihat-lihat kesana kemari, berhubung banyak tugas yang perlu kami kejar. (Hehe, semangatnya saja yang besar :p)

Stand himpunan yang cukup lama kami kunjungi tentunya milik jurusan Arsitektur. Kami melihat beberapa karya anak2 ars ITB, dari segala tingkat. Sambil melihat beberapa rancangan, kami berbincang dengan salah satu penjaga di sana. Kebetulan teman bincang kami ini statusnya sekarang di tingkat 2. Mungkin terheran kami banyak tanya, dia menanyakan asal sekolah kami. Aku jawab kami dari Unpar, jurusan arsitektur untuk jawaban pertanyaan keduanya. Tak terduga dia memberikan respon yang cukup berlebihan, menurutku, dengan segala macam pujian yang dia lontarkan tentang jurusan arstektur Unpar. …. Aku tertawa kering dan langsung menimpali dengan kalimat sangkalan halus “ah..engga..itu si tergantung dari pelajarnya saja.” Temanku berkata serupa. Selanjutnya kami sharing tentang banyak hal tentang arsitektur, sesekali disertai dengan pujian yang kembali dia ucapkan untuk almamater kami. Tiba-tiba ada yang bersuara dari belakang yang aku tahu suara perempuan itu tertuju pada kami: “Engga lagi, beda! …(jeda) kalo ITB tu lebih terkonsep!” tanda tidak setuju terasa di telingaku dari penekanan nadanya, tegas namun datar. “Eh, mereka dari Unpar tau!” balas teman bincang kami menegaskan orang itu, dan langsung mengalihkan pembicaraan. Sejenak ada suasana tidak enak. Aku tidak mencari wajah perempuan itu, tidak ada alasan yang bagus untuk itu. Yah..karena suasana tidak segera berubah, kupikir kami tidak perlu berlama-lama lagi di sana, toh kami sudah puas mengamati karya mereka. Masih banyak stand yang belum kami lihat.

Kami beralih ke tempat technology 4 children. Banyak permainan yang ditampilkan dengan dasar teori fisika, dan itu menarik perhatian banyak kalangan, mulai dari anak-anak, para remaja sampai para orang tua yang mengantar anak-anaknya. Dan yang paling memikat hatiku adalah tempat dimana ada 2 anak kecil yang terlihat sedang mengetik sesuatu di depan layar komputer. Ternyata anak2 itu tuna netra. Mereka belajar teknologi melalui media komputer, tentunya dengan menggunakan software khusus pengidap tuna netra. Kubaca apa yang sedang salah seorang anak itu ketik pada keyboardnya, dibantu oleh sistem audio yang berbunyi setiap kali dia akan mengetik. Ternyata dia sedang menceritakan kisah hidupnya sejak kecil, bagaimana dia dibesarkan dengan kasih sayang orang tuanya, juga bagaimana dia bisa sampai pada keadaannya sekarang, tuna netra. Namanya Gian, dia bukan anak yang tuna netra sejak dilahirkan. Tergetarlah kesedihan dan kepedihan pada hatiku setelah kuketahui pada saat dirinya sadar tidak akan mampu melihat 1 titik pun cahaya lagi di dunia ini. Penyebab kebutaannya itu karena sebuah kecelakaan, kisah yang mengenaskan. Menurut pengakuannya adalah karena ketoledoran yang telah ia perbuat bersama teman-temannya pada saat berumur 5 tahun. Aku iba sekaligus simpati padanya. Mungkin sejak dampaknya itu pula ia berubah, dan segera memetik pelajaran dari peristiwa itu. Dia sekarang kelas 5 SD yang disekolahkan di salah satu sekolah khusus petuna-netra, SLB NA (aku tidak menanyakan singakatan NA). Semoga keadaannya sekarang tidak mengurungkan harapan dia untuk hidup lebih baik. Aku rasakan akan semangatnya yang gigih untuk terus berjuang hadapi rintangan hidup yang lebih besar. Jangan pernah putus asa ya Gian…aku yakin kamu pasti bisa menjadi lebih baik daripada mereka yang lebih sehat. Allah Yang Maha Tahu selalu memberi yang terbaik bagi hamba-Nya, selama mereka menerima dari hasil usaha kerasnya dan menerima dengan penuh keikhlasan. Aminn

Kulihat jam tanganku, menunjukkan pukul 13.30an, kukira acara keliling ITB fair sudah harus dihentikan, kami pun melangkah pada pintu keluar. Eh sebentar, otakku memaksa kakiku untuk menahan niat untuk pulang. Telingaku menangkap suara band di luar campus centre sana. Hatiku tergerak untuk melihat barang sebentar, lumayan sebagai hiburan lebih. Tak terduga di sana aku bertemu temanku, K’Krisna, yang kukenal setahun lalu saat Open House ITB 2005. Aku berkenalan dengan alasan kuat, dia menjadi salah satu pemain orkestra di kampus ini, K’Goris yang mengenalkanku padanya, tahu aku berminat pada orkestra. Banyak pengalaman K’Krisna yang kujadikan pelajaran hidup. Aku senang bisa bertemu lagi sdengannya, setelah satu semester tidak bertemu. Tidak berbincang lama, karena kutahu dia terlihat sedang sibuk. Kami hanya membicarakan sedikit tentang saat dia terpilih mengikuti program Young Global Citizen Camp di Thailand kemarin. Terdengar mengasikkan. Lalu aku pun segera pamit pulang. Diam-diam aku mengandalkan dia sebagai pembangun keruntuhan pembangunan bangsa ini, semoga. Jangan sampai intelektualnya pada akhirnya dimanfaatkan juga oleh kekotoran politik yang telah menyampah hingga pelosok negeri ini…

(Sayang aku tidak sempat menonton acara talkshow, kalau ada)

***

Alhamdulillah, setelah aku baca sebagian dari novel “Ayat-ayat Cinta” nya Habiburrahman El Shirazy (best seller), aku merasakan kembali penyegaran rohani. Kupikir novel ini memang bernilai tinggi untuk segi islaminya, sangat bagus. Salah satu makna yang tersisip dalam ceritanya adalah kita sebagai mahkluk yang terlahir sempurna daripada makhluk lain hendaknya mengetahui jelas tujuan hidup kita, yaitu dengan membuat kehidupan kita terarah jelas. Memang akhir-akhir ini aku merasakan begitu jauuhh…dengan-Nya, terlalu sering melupakan kehadiran-Nya. Aku sungguh malu…namun tidak mampu berbuat apa-apa. Aku sedang memerlukan sesuatu untuk menggerakkan hatiku kembali pada kesadaran akan segala kasih-Nya. Aku tidak ingin berjalan lebih jauh lagi jika jalan itu membawaku pada kesesatan. Aku butuh sesuatu yang bisa mencuci jiwa dan ragaku dari kekhilafan. Ya Allah… maafkan ya… ampuni segala kelemahan hamba-Mu ini…

1 comment:

Anonymous said...

Hm... Mengharukan bgt..