Rabu 23 Nov', siang bolong di tengah2 sengatan matahari aku dan saudaraku pergi bersama menuju kampus masing2. Kami naik satu kendaraan umum, duduk di depan sebelah supir angkot. Angkot yg kunaiki terlihat sepi, dan pak supir masih enggan tuk beranjak dari tempat pemberhentian anglot. Tidak sebentar kami menunggu angkot berjalan, sementara kami sudah khawatir akan datang terlambat pada kuliah hari itu. Setelah kami cukup bersabar menemani pak supir menunggu kendaraannya penuh ditumpangi penumpang, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya," Pak, masih lama ga?", Pak supir "Oh, sebentar ya!....memangnya kalian mau kemana?", aku "kami mau kuliah pak!", pak supir "oh..yah, saya juga harus bayar bensin... Sekarang klo saya jalan sampai Ciroyom, bayar bensin setidaknya 20rebu, sedang duit belum didapat sepeserpun, paling dari kalian 6rebu..saya harus nombokin neng! Lihat saja tumpangan masih kosong, susah, makanya knp saya masih disini. Neng tau sendiri, BBM naik terus, bagi para supir-angkot itu merupakan pukulan yg sangat berat. Kami kaget neng melihat kenaikan BBM yg drastis! Coba waktu jaman Soeharto, hidup kami masih terbilang enak, dulu harga beras masih 700 rp, sekarang?! 3000 neng! Hidup makin tidak terjamin, yg kaya makin kaya, yg miskin makin miskin, mereka sudah terlalu sibuk oleh kesibukan mereka yang ga jelas, lihat saja para pejabat, sudah tidak bermoral, tidak lagi ingin melihat keadaan hidup rakyat. Jaman Soeharto sih ga ada yg seperti ini, paling harga itu naik sedikit2, masih bisa diterima, tdk seperti sekarang harga yg sekaligus melonjak tinggi. Ini semua gara2 mahasiswa yang 'menurunkan' Soeharto! Coba klo mahasiswa tidak melakukan itu, pasti ga akan ky sekarang! Harusnya mahasiswa kan melakukan kewajibannya, ya belajar. Mereka sih sudah untung bisa kuliah, artinya kan punya duit, ya mestinya gunakan kesempatan itu sebaik2nya, ilmunya untuk menyejahterakan negara. Tidak seperti kami ini yg tidak bisa sekolah, tapi bukan berarti supir angkot itu bodoh, kami jg pernah sekolah. Yg saya tau, SMU belajar matematika, fisika, biologi, kimia, sejarah, dan hukum kan?? Tapi apa yang mereka peroleh seolah tidak direalisasikan dengan tepat. Mereka dapat ilmu banyak tapi disalahgunakan, malah dipakai untuk membuat BOM, apaan itu, ga lucu!! itu kan namanya mencelakakan org, alih2 beralasan untuk berjihad. Masa memBOM di negara sendiri...Meskipun melakukan hal itu, negara musuh tetap tidak akan bergeming. Sekarang,tidak sedikit juga sarjana yang menganggur..itu karena apa, y karena di negara kita tidak membuka banyak lapangan pekerjaan. Sekolah pun jadi terasa mubazir kan?.. Makanya, sebagai generasi penerus, mestinya tahu persis tujuan menimba ilmu itu untuk apa, berusaha memperbaiki kerusakan yang terjadi dalam negara... Maaf y neng tadi saya ngetem lama, soalnya mikir harus nombokin banyak klo gada tumpangan" , aku "Iya pak gapapa! ni uangnya, buat bapak saja!".....
Nah...apa yang kita dapat dari peristiwa tadi? Tergambar jelas bagaimana kehidupan rakyat di negara kita, begitu komplikasi. Semua ini memiliki latar belakang yang setiap org pun mengetahuinya. Namun ironisnya, mereka tetap membela penyebab pertama kerusakan negara ini, karena begitu sulit menerima dampaknya, dan menyalahpersepsikan apa yang telah dilakukan org2 yang mencoba bertindak tegas pada pihak pemerintah..Jadi..sebenarnya siapa yang salah? Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bahwa kita perlu segera sadarkan diri atas apa penyebab kehancuran negara kita, jangan hanya seenaknya saling menyalahkan. Gunakanlah secara positif pola pikir yang semakin kritis kita...jangan dipakai untuk kebutuhan sendiri saja, tapi juga demi kebutuhan org banyak.
Aku benar2 mengambil pelajaran darinya, cerita pak supir itu telah membuatku berpikir panjang, dan terenung. Bak pencerahan, hikmah dari cerita pak supir tadi membuatku terbangun dari lelap, bangkitkan semangat baru jalani hidup dengan tujuan yang setidaknya sudah terlukis dlm benak, yaitu beramal untuk masyarakat....
No comments:
Post a Comment